RADAR BLAMBANGAN.COM, | KEDIRI – Ada yang berbeda dalam resepsi pernikahan putra pertama Dr. Moh. Amak Burhanudin, Kabid PAIS Kanwil Kemenkumham Agama Provinsi Jawa Timur yang berlangsung di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri, Sabtu (13/6/2026). Selain menerima suvenir pernikahan, para tamu undangan juga membawa pulang bibit pohon sawo kecik sebagai kenang-kenangan yang sarat makna.
Langkah tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan ekoteologi yang saat ini terus dikampanyekan Kementerian Agama. Melalui pembagian bibit pohon, momentum pernikahan tidak hanya menjadi perayaan kebahagiaan keluarga, tetapi juga ajakan untuk merawat alam dan menanam nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemilihan sawo kecik bukan tanpa alasan. Dalam khazanah budaya Jawa, sawo kecik memiliki makna filosofis yang mendalam. Istilah sawo kecik sering dihubungkan dengan ungkapan sarwa becik yang berarti serba baik. Pohon ini melambangkan harapan agar seseorang senantiasa berbuat baik, bermanfaat bagi lingkungan sekitar, serta memiliki akhlak dan kepemimpinan yang luhur.
Selain mengandung simbol kebajikan, sawo kecik juga dikenal memiliki banyak manfaat. Buahnya kaya nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh, membantu menjaga sistem pencernaan, mencegah anemia, serta berpotensi menurunkan kadar kolesterol. Dalam tradisi masyarakat Jawa, buah sawo kecik juga dipercaya mampu memberikan aroma tubuh yang lebih harum. Sementara kayunya yang kuat dan awet kerap dimanfaatkan sebagai bahan bangunan maupun perabot rumah tangga.
Turut hadir dalam resepsi tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, bersama jajaran keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Ia mengapresiasi inisiatif keluarga mempelai yang mengintegrasikan pesan pelestarian lingkungan dalam sebuah acara keluarga.
Menurut Chaironi, semangat menjaga alam melalui penanaman pohon merupakan bagian penting dari implementasi program ekoteologi yang sedang digalakkan Kementerian Agama. Bahkan, saat ini calon pengantin juga didorong untuk berpartisipasi dalam gerakan menanam pohon sebagai wujud tanggung jawab terhadap keberlangsungan lingkungan.
“Pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga dapat menjadi momentum menebar manfaat yang lebih luas. Melalui penanaman pohon, kita berharap lahir kesadaran bahwa kebahagiaan hari ini juga harus memberi warisan kebaikan bagi generasi mendatang,” ujar Chaironi.
Suasana resepsi yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan itu pun meninggalkan kesan tersendiri bagi para tamu. Bibit sawo kecik yang dibawa pulang diharapkan tumbuh menjadi pohon yang memberi manfaat sekaligus menjadi simbol bahwa setiap kebaikan yang ditanam akan terus bertumbuh dan berbuah bagi kehidupan.***
