RADAR-BLAMBANGAN.COM, | JEMBER, –
Pengalaman menghadapi banjir tidak cukup hanya menjadi catatan masa lalu. Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, kini mulai membangun sistem kesiapsiagaan yang memungkinkan masyarakat mendeteksi risiko lebih awal, bergerak lebih cepat, dan meminimalkan dampak bencana.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Grand Launching Program KAMTAB (Kampung Tanggap Bencana) yang digagas Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (UNEJ) bersama Pemerintah Desa Nogosari, Kamis (20/8/2026), di Balai Desa Nogosari.
KAMTAB bukan sekadar program kebencanaan, tetapi dirancang sebagai gerakan kolaboratif yang menggabungkan teknologi, edukasi masyarakat, konservasi lingkungan, perlindungan kelompok rentan, dan penguatan kapasitas warga. Program ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dengan melibatkan pemerintah desa, masyarakat, DESTANA, pemuda, sekolah, tenaga kesehatan, mahasiswa, serta berbagai pemangku kepentingan.
Momentum peluncuran ditandai dengan pemotongan pita, penandatanganan komitmen bersama mitra, penyerahan perangkat inovasi kepada Pemerintah Desa Nogosari, demonstrasi sistem Internet of Things (IoT) dan website.
Salah satu inovasi utama KAMTAB adalah SI-Tanggap/SI-INFO, sistem peringatan dini banjir berbasis IoT yang memungkinkan pemantauan ketinggian air dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Kehadiran teknologi ini diharapkan memperpendek waktu respons warga ketika indikator ancaman banjir mulai terdeteksi.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNEJ, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., mengatakan, pemilihan Desa Nogosari sebagai lokasi program sangat relevan dengan pengalaman bencana yang pernah terjadi.
“Memang pengalaman sebelumnya terjadi bencana banjir yang cukup signifikan di Desa Nogosari. Ada pertemuan beberapa aliran sungai besar, sehingga program terkait tanggap bencana dan early warning system menjadi kegiatan yang sangat tepat dan strategis,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi saja tidak cukup. Sistem peringatan dini harus berjalan bersama dengan peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. “Dengan teknologi itu dan dibarengi bangunan kesadaran masyarakat tentang bagaimana mereka tanggap bencana, mudah-mudahan dapat meminimalisir risiko jika suatu saat terjadi hal yang sama,” katanya.
Ia menegaskan UNEJ juga berkomitmen menjaga keberlanjutan sistem setelah program mahasiswa selesai. Menurutnya, harus ada pihak di desa yang diberi kepercayaan untuk mengamankan dan memantau perangkat sehingga dapat berfungsi secara berkelanjutan.
“Kalau ada kesulitan, kampus siap sewaktu-waktu menerjunkan tim untuk memastikan teknologi yang sudah dirintis ini bisa dimanfaatkan dengan baik,” tegasnya.
Kehadiran berbagai inovasi ini menunjukkan bahwa KAMTAB tidak menempatkan banjir semata sebagai persoalan kedaruratan. Konservasi lingkungan, kesehatan, ketahanan pangan, perlindungan kelompok rentan, dan kesiapsiagaan bencana ditempatkan dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat.
“Pesan utama program ini adalah kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan. KAMTAB diarahkan agar tidak berhenti ketika program PPK Ormawa berakhir, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat serta Pemerintah Desa Nogosari,” lugasnya.
Penguatan ketangguhan melalui KAMTAB juga mendapatkan perhatian dari BPBD Kabupaten Jember. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Jember, Zughrinada Wahyudi Hidayat, S.T., M.Si., menyampaikan, wilayah Nogosari memiliki pengalaman berulang menghadapi dampak banjir.
Ia menilai keberadaan sistem peringatan dini yang dikembangkan PPK Ormawa dapat membantu masyarakat melakukan evakuasi lebih awal sehingga risiko korban dapat ditekan. “Adanya EWS dari PPK Ormawa membantu sekali untuk sistem perlindungan masyarakat, terutama untuk mengevakuasi lebih dini jika terjadi [ancaman], sehingga tidak sampai jatuh korban,” ujarnya.
Ketua Tim PPK Ormawa BEM FKM UNEJ, Savero Gian Purnomo, menjelaskan, KAMTAB tidak dibangun berdasarkan asumsi mahasiswa semata. Solusi yang dikembangkan merupakan hasil diskusi dan musyawarah bersama berbagai pemangku kepentingan.
“Kami tidak menentukan solusinya sendiri, tetapi berdasarkan hasil musyawarah bersama. Sistem yang kami bangun terus dikembangkan dan diuji agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Selain selain itu, masih kata Savero, SI-Tanggap/SI-INFO, KAMTAB menghadirkan sejumlah inovasi lain. SI-Care berfokus pada identifikasi dan perlindungan kelompok rentan melalui pendataan dan pemetaan untuk mendukung kesiapsiagaan evakuasi. SI-Kencana memperkuat kapasitas masyarakat melalui edukasi, pelatihan, simulasi, mitigasi, hingga kemampuan evakuasi. Sementara SI-Rasa mendorong pengelolaan sampah melalui pemilahan, pengolahan sampah organik, maggot, kompos, dan perubahan perilaku masyarakat.
Program SI-Larung turut memperkuat ketahanan masyarakat melalui Rumah Lindung, aquaponik, serta pemanfaatan lingkungan untuk mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat.
“Melalui KAMTAB, Desa Nogosari sedang membangun paradigma baru dalam menghadapi bencana, bukan menunggu banjir datang untuk kemudian bertindak, melainkan mengenali risiko, mempersiapkan masyarakat, mendeteksi ancaman lebih dini, bergerak bersama, dan mampu bangkit setelah bencana.”pungkasnya.
(Bagus)
