RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Apa yang dulu menyisakan kekhawatiran, kini justru menjadi sumber harapan baru. Warga Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, membuktikan bahwa lahan bekas galian C tak selalu identik dengan kerusakan. Dengan sentuhan kreativitas dan kolaborasi, area tersebut disulap menjadi kolam budidaya ikan yang produktif dan bernilai ekonomi.
Gerakan ini lahir dari kepedulian warga yang enggan melihat lahan bekas tambang terus terbengkalai dan berpotensi membahayakan. Bersama aktivis mahasiswa lintas organisasi, warga membangun konsep pemanfaatan berkelanjutan yang tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga ekologis.
Inisiatif tersebut mendapat dukungan penuh dari pemilik lahan, Michael Edy Hariyanto, SH, MH, yang juga Wakil Ketua DPRD Banyuwangi. Ia memberikan izin sekaligus dorongan agar lahan itu dikelola secara produktif oleh masyarakat sekitar.
Pengelolaan dilakukan oleh Komunitas Masyarakat Pecinta Lingkungan Desa Badean bersama aliansi mahasiswa dari berbagai organisasi seperti HMI, GMNI, dan Mukadimah Institute. Ketua komunitas, Hadiq, menegaskan bahwa langkah ini merupakan solusi konkret dari keresahan warga.
“Dulu lokasi ini sempat memakan korban karena banyak orang luar yang nekat mencari ikan tanpa memperhatikan keselamatan. Daripada dibiarkan, kami sepakat memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kolam ikan, kawasan ini juga difungsikan sebagai penampung air saat musim hujan guna mencegah banjir, sekaligus cadangan air untuk pertanian di musim kemarau.
Ke depan, konsep pengembangan akan diperluas menjadi kawasan terpadu berbasis lingkungan. Mulai dari tambak apung, aquaponik tanaman selada, budidaya bebek, hingga pembangunan rumah apung. Tak hanya itu, area ini juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata edukasi yang bisa dimanfaatkan pelajar untuk belajar langsung tentang pengelolaan lingkungan.
Mahasin Haikal Amanullah dari Mukadimah Institute menyebut langkah ini sebagai terobosan yang patut diapresiasi. Ia menilai, pendekatan solutif seperti ini lebih dibutuhkan dibanding sekadar kritik terhadap kerusakan lingkungan.
“Kita tidak bisa hanya berhenti pada kritik. Harus ada langkah nyata. Ini bisa menjadi model baru pengelolaan pasca tambang di Banyuwangi,” tegasnya.
Dukungan serupa datang dari Ketua GMNI Banyuwangi, Riyan Bachtiar, yang memastikan pihaknya siap mengawal keberlanjutan program tersebut agar benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Sementara itu, Michael Edy Hariyanto mengaku bangga atas inisiatif warga dan mahasiswa. Ia menilai kolaborasi ini sebagai contoh nyata solusi berbasis masyarakat yang mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga tentang masa depan ekonomi warga. Saya akan dukung penuh,” ujarnya.
Sebagai tahap awal, warga bersama mahasiswa akan melakukan pembersihan kolam dari lumut dan tanaman liar sebelum mulai menebar bibit ikan dalam beberapa hari ke depan.
Langkah kecil dari Desa Badean ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kepedulian dan gotong royong. Dari bekas luka tambang, kini tumbuh harapan baru bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. (Mahalik)
