RADAR BLAMBANGAN.COM, | Di dalam sejarah panjang umat manusia, selalu hadir sosok-sosok yang dipilih zaman untuk menjadi penanda arah. Mereka tidak sekadar hidup untuk dirinya sendiri, tetapi menjadikan hidup sebagai jalan pengabdian. Sebab dalam pandangan agama, kemuliaan manusia bukan diukur dari seberapa tinggi jabatannya, tetapi seberapa luas manfaat yang ia tebarkan.
Di tengah zaman yang dipenuhi kegaduhan politik, tarik-menarik kepentingan, dan pergeseran nilai keluarga, hadir satu kenyataan yang tak bisa dibantah: umat membutuhkan lebih banyak sosok yang mampu menjahit ilmu, kuasa, dan pengabdian dalam satu tarikan napas. Sosok itu, dalam konteks Banyuwangi hari ini, dapat dibaca dalam perjalanan Dr. Ficky Septalinda, S.E., M.M.
Ficky Septalinda bukan sekadar politisi perempuan dari PDI Perjuangan. Ia adalah representasi dari ketekunan yang panjang, perempuan yang tidak hanya hadir dalam panggung demokrasi, tetapi juga dalam ruang-ruang sunyi pengabdian sosial. Menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Banyuwangi periode 2024–2029 bukanlah capaian yang lahir dalam semalam.
Karier legislatifnya menunjukkan konsistensi. Sejak dipercaya menjadi Ketua Sementara DPRD Banyuwangi pada 2014, lalu menjabat Ketua Komisi IV pada periode 2019–2024 yang membidangi pembangunan dan infrastruktur, Ficky menunjukkan bahwa politik tidak harus kehilangan nurani. Politik bisa menjadi alat kebermanfaatan jika diletakkan di atas fondasi niat yang benar.
Namun sesungguhnya, lebih dari sekadar pembangunan fisik, ada pembangunan yang jauh lebih penting: pembangunan keluarga. Sebab keluarga adalah madrasah pertama bagi lahirnya generasi, tempat iman pertama kali diajarkan, dan ruang awal akhlak dibentuk.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa kerusakan besar dalam masyarakat sering kali berawal dari keretakan kecil dalam keluarga. Rumah yang rapuh melahirkan masyarakat yang rapuh. Sebaliknya, keluarga yang kokoh akan menjadi tiang bagi tegaknya bangsa.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa kehadiran LKKNU Banyuwangi menjadi sangat penting. LKKNU bukan sekadar lembaga organisatoris di bawah Nahdlatul Ulama. Ia adalah wajah kepedulian NU terhadap denyut persoalan keluarga yang nyata.
Pada awal Tahun Baru Hijriyah 1448 H, Ficky Septalinda dikukuhkan sebagai Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi periode 2026–2031. Momentum ini terasa simbolik. Hijrah Nabi Muhammad SAW adalah simbol transformasi: dari keterpurukan menuju kemuliaan, dari gelap menuju cahaya.
Dan bukankah kerja besar LKKNU juga demikian? Mengangkat keluarga dari problematika menuju solusi. Menjemput luka-luka rumah tangga yang sering disembunyikan di balik tembok rumah.
LKKNU Banyuwangi hadir dengan visi besar: menjaga keluarga sebagai fondasi umat. Sebab keluarga bukan sekadar institusi sosial. Dalam Islam, keluarga adalah amanah ilahiah yang harus dirawat dengan ilmu, cinta, dan tanggung jawab.
Program Isbat Nikah yang dijalankan LKKNU Banyuwangi menjadi bukti nyata. Banyak pasangan hidup bertahun-tahun tanpa legalitas negara, sehingga anak-anak mereka kehilangan perlindungan hukum. Dalam perspektif agama, menjaga nasab adalah bagian penting dari maqashid syariah.
Di titik inilah peran Ficky menemukan relevansinya. Sebagai legislator, ia memahami aspek hukum. Sebagai akademisi, ia memahami struktur sosial. Sebagai perempuan, ia memahami kedalaman luka yang sering dialami perempuan dalam rumah tangga.
Tidak berhenti di situ, LKKNU Banyuwangi juga mengembangkan program Pendampingan Pranikah dan Calon Pengantin bersama Dinas Sosial PPKB Banyuwangi. Ini adalah bentuk ikhtiar yang visioner. Sebab banyak rumah tangga runtuh bukan karena kurang cinta, tetapi karena kurang kesiapan.
Menikah sering dipahami sebagai akhir dari pencarian cinta, padahal sejatinya ia adalah awal dari jihad kehidupan. Rumah tangga membutuhkan kesiapan mental, spiritual, ekonomi, dan psikologis. Tanpa itu, cinta sering kalah oleh ego.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya. Hadis ini sederhana, tetapi berat. Sebab menjadi baik di luar rumah lebih mudah daripada menjadi baik di dalam rumah.
LKKNU Banyuwangi memahami bahwa ketahanan keluarga tidak cukup dibangun dengan nasihat. Ia harus dibangun dengan sistem. Maka lahirlah program percepatan administrasi kependudukan bekerja sama dengan Dispendukcapil Banyuwangi.
Banyak orang menganggap dokumen seperti KTP, KK, atau akta cerai hanyalah lembaran administratif. Padahal di baliknya ada hak pendidikan anak, hak kesehatan, hak waris, dan perlindungan sosial. Inilah bentuk maslahat yang sering luput dari perhatian.
Keberadaan Ficky di LKKNU semakin kuat ketika melihat latar akademiknya. Tahun 2025 ia resmi meraih gelar doktor melalui disertasi tentang Participatory Budgeting pada Forum Reses DPRD Banyuwangi. Sebuah riset yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses penganggaran.
Partisipasi adalah jantung demokrasi. Dan dalam keluarga, partisipasi adalah jantung keharmonisan. Rumah tangga yang sehat dibangun oleh dialog, bukan dominasi. Oleh musyawarah, bukan pemaksaan.
Menariknya, nilai-nilai yang diteliti Ficky dalam dunia politik ternyata sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan LKKNU. Keduanya sama-sama menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek.
LKKNU Banyuwangi juga melahirkan program yang sangat menyentuh bernama PELITA HATI.
PELITA adalah singkatan dari Perempuan Energik Lepas Intimidasi dan Trauma Asal. Sedangkan HATI berarti Healing, Advokasi, Traumaless, Independen.
Nama ini bukan sekadar akronim. Ia adalah manifestasi kasih sayang sosial. Bahwa perempuan yang mengalami luka tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam diam. Mereka harus dipulihkan, didampingi, dan dikuatkan.
Slogan utamanya, “Menyingkap Cahaya di Balik Pintu yang Senyap,” adalah kalimat yang sangat dalam. Ia menggambarkan bahwa banyak penderitaan perempuan terjadi dalam ruang domestik yang tertutup dan tak terlihat.
Sering kali dunia luar melihat sebuah rumah tampak baik-baik saja, padahal di dalamnya ada air mata yang tak pernah kering. Ada trauma yang tak pernah sembuh. Ada intimidasi yang diwariskan diam-diam.
LKKNU hadir mengetuk pintu-pintu itu. Tidak dengan gaduh, tetapi dengan kasih. Tidak dengan penghakiman, tetapi dengan pendampingan.
Ficky memahami itu. Pengalamannya sebagai dosen di Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi dan keterlibatannya di koperasi An-Nisa PC Muslimat NU menunjukkan bahwa dunia perempuan dan keluarga bukanlah wilayah baru baginya.
Ia telah lama berjalan di orbit pengabdian perempuan NU. Lambang bola dunia berbintang bukan sekadar simbol organisasi baginya, tetapi jalan panjang khidmah yang telah ia lalui.
Kalimatnya sederhana: “Sepanjang yang dilakukan bermanfaat untuk umat, maka akan saya lakukan.” Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan filosofi besar tentang ikhlas dan pengabdian.
Di sinilah kita melihat bahwa kehadiran Ficky di LKKNU bukan sekadar pelengkap struktur. Ia adalah energi intelektual, energi sosial, dan energi moral.
Hari ini, ketahanan keluarga adalah isu besar bangsa. Perceraian meningkat. Kekerasan domestik tumbuh. Anak-anak kehilangan figur. Perempuan memikul trauma sendirian. Administrasi keluarga sering kali berantakan.
Bila persoalan ini diabaikan, maka bangsa akan kehilangan fondasi. Sebab bangsa besar tidak lahir dari gedung-gedung megah, tetapi dari rumah-rumah yang sehat.
Dan LKKNU Banyuwangi sedang bekerja di titik paling mendasar itu: rumah. Tempat peradaban dimulai.
Karena peradaban tidak lahir dari istana, melainkan dari dapur yang damai, ruang tamu yang penuh doa, ibu yang kuat, ayah yang bertanggung jawab, dan anak-anak yang tumbuh tanpa luka.
Dalam konteks itulah, kehadiran Ficky Septalinda di LKKNU menjadi penting. Ia adalah pertemuan antara politik, ilmu, dan khidmah.
Seorang doktor yang turun ke masyarakat. Seorang legislator yang tidak meninggalkan nurani. Seorang akademisi yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Dan LKKNU Banyuwangi, dengan seluruh programnya, sedang menulis sejarah sunyi: menyelamatkan keluarga, menguatkan umat, dan menjaga masa depan bangsa.
Sebab pada akhirnya, yang abadi bukan jabatan. Yang kekal bukan popularitas. Tetapi jejak maslahat yang tertinggal setelah kita pergi.
Dan jejak itu sedang ditulis hari ini di Banyuwangi, bersama LKKNU, bersama umat, bersama cahaya.
