RADAR-BLAMBANGAN.COM, | JAKARTA — Bukan sekadar duduk di balik meja, sejumlah pimpinan Polri justru dinilai lebih sering memilih turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat, mengecek kesiapan personel, hingga memastikan pelayanan kepolisian berjalan.
Hal tersebut menjadi sorotan Ketua Umum Fast Respon Counter Polri (FRN), Agus Flores, berdasarkan pemantauan yang dilakukannya terhadap aktivitas pimpinan Polri di berbagai daerah.
Agus menilai, pola kerja tersebut menunjukkan bahwa pimpinan kepolisian dituntut untuk hadir langsung di tengah masyarakat, terutama ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan respons cepat.
Menurut Agus, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menjadi salah satu figur yang dalam pantauannya memiliki intensitas tinggi dalam menjalankan agenda lapangan. Agus menyebut aktivitas Kapolri tidak hanya berkaitan dengan internal institusi, tetapi juga berbagai program yang bersentuhan dengan kepentingan masyarakat dan agenda pemerintah.
“Demi mendukung program Presiden Prabowo, Bapak Kapolri tak kenal lelah. Semua program masyarakat didukungnya. Pokoknya tiap hari Bapak Kapolri ada di lapangan,” ujar Agus Flores.
Salah satu agenda yang disorot Agus adalah kunjungan Kapolri ke Banten. Dalam agenda tersebut, Kapolri hadir langsung dan mengajak berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas serta perguruan silat, untuk ikut menjaga keamanan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Bagi Agus, kehadiran langsung pimpinan Polri di lapangan menjadi pesan tersendiri bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan laporan tertulis dari jajaran.
“Tidak betah di belakang meja,” demikian gambaran Agus terhadap pola kepemimpinan yang ia lihat dari sejumlah pejabat utama kepolisian.
Pemantauan Agus juga mencatat aktivitas sejumlah Kapolda yang menurutnya memiliki karakter serupa.
Di Kalimantan Tengah, Agus menyoroti Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan yang menurutnya aktif turun menangani persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Agus bahkan melontarkan candaan mengenai pakaian lapangan yang dikenakan Iwan saat berada di lokasi karhutla.
“Kaos dipakainya tak pernah diganti,” kata Agus sembari bercanda. Menurut dia, hal itu menggambarkan sosok pemimpin yang disebutnya memiliki tipikal pekerja lapangan.
Sementara di Jawa Barat, Agus menyoroti Kapolda Jabar Irjen Pol Pipit Rismanto. Menurutnya, aktivitas Kapolda Jabar yang turun ke berbagai wilayah menjadi bagian dari gaya kepemimpinan yang dekat dengan kondisi faktual di lapangan.
Di Sumatera Barat, Agus menyebut Kapolda Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy. Ia menyoroti komunikasi Kapolda Sumbar dengan kalangan wartawan yang menurutnya menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi kepolisian kepada publik.
“Kapolda Sumbar sayang seluruh wartawan. Tiap hari di lapangan selalu dengan wartawan. Tanpa wartawan, bagaikan sayur tanpa garam,” ujar Agus dengan nada bercanda.
Sementara itu, untuk wilayah Polda Metro Jaya, Agus menilai tantangan yang dihadapi Kapolda Komjen Pol Asep Edi Suheri tidak ringan. Kompleksitas persoalan keamanan dan ketertiban di wilayah Ibu Kota, menurut Agus, membuat intensitas kerja pimpinan Polda Metro Jaya sangat tinggi.
Agus juga menyebut sejumlah Kapolda lain yang menurut hasil pemantauannya aktif turun langsung ke wilayah masing-masing. Namun, ia mengakui tidak seluruh nama dan wilayah masih diingatnya secara lengkap.
Untuk Banten, Agus memberikan perhatian khusus terhadap aspek pelayanan masyarakat. Ia menilai pimpinan kepolisian harus memastikan anggota di lapangan benar-benar memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
Menurut Agus, ketika pelayanan tidak berjalan sebagaimana mestinya, pimpinan harus berani melakukan evaluasi dan pembenahan.
“Polisi itu harus melayani masyarakat. Kalau pelayanan tidak baik, pimpinan harus turun dan melihat sendiri. Jangan hanya menunggu laporan,” ujar Agus.
Bagi Agus, fenomena pimpinan Polri yang turun langsung ke lapangan menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati. Ia menilai kehadiran pimpinan secara langsung memungkinkan persoalan di lapangan terlihat lebih cepat dan respons dapat diberikan secara lebih konkret.
“Yang saya monitor, Kapolri dan para Kapolda banyak yang turun langsung. Mereka melihat sendiri kondisi di lapangan. Itu yang saya nilai dari apa yang lewat di beranda saya,” ungkapnya.
Agus menegaskan, catatan tersebut merupakan hasil pemantauan Fast Respon terhadap aktivitas sejumlah pimpinan Polri, bukan sebuah penilaian terhadap seluruh jajaran kepolisian.
Pesannya sederhana: kepemimpinan kepolisian tidak hanya terlihat dari meja komando, tetapi juga dari seberapa jauh seorang pimpinan hadir ketika masyarakat membutuhkan. (Mh)
