RADAR BLAMBANGAN.COM, | BEKASI – Tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, meninggalkan luka mendalam. Di balik dentuman keras dan kepanikan yang pecah di lokasi, puluhan korban kini berjuang antara hidup dan mati di berbagai rumah sakit, sementara sebagian lainnya tak lagi tertolong.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui Anne Purba telah menyampaikan permohonan maaf dan memastikan fokus utama saat ini adalah evakuasi serta penanganan korban. Namun di lapangan, suasana duka jauh lebih terasa tangis keluarga pecah di lorong-lorong rumah sakit, menunggu kepastian nasib orang-orang tercinta.
Data sementara dari RSUD Bekasi mencatat 3 korban meninggal dunia (dua di antaranya belum teridentifikasi) dan puluhan korban lainnya menjalani observasi di IGD, di antaranya:
Desvita, Shofi Salsabila, Anggita Rizca Utami, Ratri Intan Anggraeni, Sausan Sarifah, Ira Indira Putri, Amalia Khasanah Ulfa, Nuryati, Stevani Sofia, Dewi Sagita, Alija, Riki, Muchlis, Ahmad Nur Syahril, Siti Maryam, Hari Septiansah, Nuryani, Dinasti Kurusma Wardani, Hari Septiansyah, Vira Oktaviani Putri, Suebandi, Afna Regita, Yumita Endang PS, Purwanti, Subur Sagita, Eifan Mandhara, Dwi Apriliana, Andi Saputra, Yuliana, Ria Rustiati, Yuliana Nur Pratama, Nuriyah Indah Rahmawati, Fitria Husni, Anggita, Leni Julianti, Rifan Mandha, hingga Suryani Sofia. Beberapa nama lainnya masih dalam proses pendataan.
Korban juga tersebar di sejumlah rumah sakit lain. Di RS Mitra Plumbon Cibitung Medika terdapat empat korban yakni Jaenudin (55), Joko Herwanto (53), Rini Utami (47), dan Safia Mutiara (21).
Sementara itu, RS Primaya Bekasi Timur merawat delapan korban, di antaranya Dinda Aulia, Siska, Sabrina, Jesika, Riski Mardianto, Ahlana, Qonika, dan Febrian sebagian merupakan penumpang KRL dan awak layanan kereta.
Di RS Siloam Bekasi Timur, satu korban atas nama Heni Fitriani masih menjalani perawatan intensif. Sedangkan RS Hermina Bekasi menangani dua korban, yakni Alvala dan Linda Poppy.
Duka bertambah dari RS Bella Bekasi yang mencatat 1 korban meninggal dunia tanpa identitas serta empat korban dalam observasi. Satu korban lainnya, Nasyfa, dirawat di RS Bhakti Kartini Bekasi.
Di tengah keterbatasan informasi dan kondisi darurat, proses identifikasi korban menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah keluarga masih berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, berharap menemukan kabar atau setidaknya kepastian.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan. Sementara itu, upaya evakuasi dan penanganan korban terus berlangsung tanpa henti. Tragedi ini bukan hanya soal angka korban, tetapi juga tentang harapan yang terhenti, perjalanan yang tak sampai tujuan, dan keluarga yang kini harus menerima kenyataan pahit.
Pembaruan data masih akan terus dilakukan seiring perkembangan di lapangan.***
