RADAR BLAMBANGAN.COM , | GIANYAR, — Pada Jumat, 20 Februari 2026, ruang rapat kantor Desa Bakbakan, Kecamatan Gianyar, menjadi saksi pertemuan penting bagi masa depan warga. Pemerintah Kabupaten Gianyar bersama para pemilik hak atas tanah menggelar musyawarah penetapan bentuk ganti kerugian untuk pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR) berikut sarana penunjang di wilayah itu.
Forum berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh penghormatan. Warga yang tanahnya terdampak diberi ruang menyampaikan pandangan, menanyakan rincian, hingga mengusulkan skema ganti rugi yang adil. Tim dari Dinas PUPR, Badan Pertanahan Nasional, serta perwakilan pemkab menjelaskan dasar perhitungan, prosedur pembayaran, dan jadwal pelaksanaan agar semua pihak memiliki gambaran jelas.
Proses dialog berlangsung dinamis namun tetap terkendali. Beberapa peserta awalnya mempertanyakan luas bidang yang terkena proyek; petugas segera memaparkan peta ukur dan berita acara pengukuran. Ada pula usulan agar bentuk ganti kerugian tidak semata uang tunai, melainkan dipertimbangkan peluang pelibatan warga dalam pengelolaan fasilitas kelak. Semua catatan dicatat, dibahas, lalu dirumuskan dalam draf kesepakatan.
Pembangunan GOR sendiri diharapkan menjadi titik balik bagi Bakbakan dan desa tetangga—fasilitas yang mendukung olahraga warga, wadah pembinaan generasi muda, serta ruang kegiatan sosial. Pemkab menekankan bahwa proyek dirancang transparan sejak awal, dengan musyawarah sebagai kunci mencegah salah paham serta menjaga kepercayaan publik.
Menjelang sore, forum mencapai titik temu: bentuk dan mekanisme ganti kerugian disetujui secara mufakat. Peserta membubuhkan paraf persetujuan, didampingi perangkat desa dan tim pengadaan tanah. Kepala Desa Bakbakan menutup acara dengan pesan bahwa semangat ini harus terus dijaga hingga konstruksi berjalan.
Jika semua tahapan lanjutan lancar, pembangunan GOR akan dimulai dalam beberapa bulan ke depan. Warga Bakbakan kini menatap masa depan dengan harapan baru: memiliki arena olahraga yang layak, sekaligus menjadi bukti bahwa keputusan besar dapat diambil bersama—tanpa tekanan, tetapi dengan dialog dan rasa saling menghargai. (Echa)
