RADAR BLAMBANGAN.COM, | KALIPURO, BANYUWANGI, – Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kalipuro yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Khoiroh, Dusun Pekarangan, Desa Kelir, Sabtu (6/6/2026), berlangsung lancar, tertib, dan penuh nuansa persaudaraan.
Forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama di tingkat kecamatan tersebut berhasil menetapkan Ustadz Abdul Ghani sebagai Rais Syuriah dan Nanang Musta’in sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Kalipuro masa khidmat 2026–2031.
Konferensi yang dihadiri sekitar 200 peserta itu menjadi ruang konsolidasi strategis bagi warga Nahdliyin Kalipuro dalam merumuskan arah organisasi lima tahun ke depan. Peserta terdiri atas perwakilan ranting NU, badan otonom, lembaga, serta tokoh-tokoh NU dari berbagai wilayah di Kecamatan Kalipuro.
Sejak pembukaan hingga sidang-sidang pleno, suasana konferensi berjalan dalam bingkai musyawarah dan semangat ahlussunnah wal jamaah. Sebanyak 30 ranting NU mengikuti jalannya konferensi, meskipun satu ranting belum dapat berpartisipasi dalam proses pemilihan karena belum menyelenggarakan musyawarah ranting.
Pada proses pemilihan Rais Syuriah melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), forum berhasil menjaring sejumlah nama yang memperoleh dukungan peserta. Dari hasil penyaringan, mengerucut lima tokoh dengan dukungan terbanyak, yakni Abdul Ghani, Agus Idrus, Gus Nardho, Hariri, dan KH Abdul Majid.
Melalui forum musyawarah AHWA yang berlangsung penuh kehati-hatian dan kebijaksanaan, lima tokoh tersebut kemudian bersepakat memberikan amanah kepemimpinan Syuriah kepada Ustadz Abdul Ghani untuk memimpin MWCNU Kalipuro lima tahun mendatang.
Sementara itu, proses pemilihan Ketua Tanfidziyah berlangsung dinamis. Forum terlebih dahulu menyepakati ketentuan bahwa bakal calon harus memperoleh dukungan minimal 15 suara untuk dapat ditetapkan sebagai calon tetap.
Dalam pemungutan suara yang berlangsung terbuka dan demokratis, Nanang Musta’in memperoleh dukungan 18 suara, sedangkan Nanang Rojik meraih 11 suara. Dengan hanya satu calon yang memenuhi ambang batas dukungan, forum kemudian menetapkan Nanang Musta’in sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Kalipuro secara aklamasi.
Pimpinan sidang konferensi, H. Guntur Al Badri yang mewakili PCNU Banyuwangi, mengapresiasi seluruh peserta yang mampu menjaga suasana forum tetap kondusif meskipun dinamika perbedaan pilihan sempat mengemuka. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kematangan warga NU dalam menjalankan mekanisme organisasi.
“Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam proses demokrasi organisasi. Yang terpenting adalah seluruh pihak mampu mengelolanya dengan musyawarah sehingga menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bersama,” ujarnya.
Dalam arahannya, Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, H. Nasir Basrawi, menegaskan pentingnya kaderisasi sebagai fondasi keberlangsungan jam’iyah. Ia mengingatkan bahwa NU membutuhkan kader-kader yang tidak hanya mampu menjaga warisan ulama, tetapi juga siap menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.
“Kaderisasi harus menjadi perhatian bersama. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, NU dituntut tetap kokoh menjaga tradisi sekaligus mampu menghadirkan solusi bagi kebutuhan umat,” pesannya.
Ketua PCNU Banyuwangi, Akhmad Turmudzi, yang hadir dalam konferensi tersebut berharap kepengurusan baru dapat menjadi motor penggerak kebangkitan organisasi di Kalipuro. Ia menilai potensi sumber daya Nahdliyin di wilayah tersebut sangat besar dan perlu dikelola secara terarah melalui program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kalipuro memiliki kekuatan besar. Dengan sinergi seluruh elemen NU, saya optimistis berbagai program keumatan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan lebih optimal dan memberi manfaat yang luas bagi masyarakat,” tegasnya.
Konferensi MWCNU Kalipuro tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum regenerasi kepemimpinan, tetapi juga sarana memperkuat komitmen khidmah kepada umat. Terpilihnya Abdul Ghani dan Nanang Musta’in diharapkan mampu memperkokoh konsolidasi organisasi, memperluas kaderisasi, serta menghadirkan berbagai program yang semakin mendekatkan Nahdlatul Ulama dengan kebutuhan masyarakat.
Tradisi musyawarah yang mewarnai seluruh rangkaian konferensi menjadi gambaran nyata bahwa nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU tetap terjaga. Berbeda dalam pilihan, bersatu dalam tujuan, serta bersama-sama mengabdikan diri demi kemaslahatan umat, kemajuan jam’iyah, dan keutuhan bangsa. (hkl)
