RADAR BLAMBANGAN.COM, | Sorong, – Satgaswil Densus 88 AT Polri Papua Barat menggelar kegiatan podcast live streaming di Pro 1 RRI Sorong pada Selasa (21/4/2026). Mengusung tema “Mewaspadai Radikalisme di Media Sosial”, diskusi ini merupakan bentuk kerja sama sinergis antara Polri, tokoh agama, dan RRI dalam upaya mencegah penyebaran paham intoleran serta radikalisasi digital di Provinsi Papua Barat Daya.
Kasatgaswil Densus 88 AT Polri Papua Barat, Kombes Pol. Gede Suardana, S.Pd., M.M., hadir sebagai narasumber utama. Dalam arahannya, menekankan bahwa radikalisme digital kini menjadi ancaman nyata, terutama bagi generasi muda.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui deteksi dini terhadap konten bermuatan ekstrem dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Peran aktif warga dalam melaporkan indikasi radikalisme di lingkungan masing-masing sangat krusial bagi keamanan kita bersama,” tegas Kombes Pol. Gede Suardana.
Ia juga menjelaskan bahwa Satgaswil Papua Barat terus membangun kolaborasi dengan tokoh agama guna memutus rantai penyebaran paham radikal secara efektif.
Senada dengan hal tersebut, Ketua NU Kota Sorong, Ustad Mulyono, S.Ag., menegaskan bahwa ajaran agama sejatinya menolak segala bentuk kekerasan. Ia mengajak umat untuk mempraktikkan moderasi beragama dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi provokatif di ruang siber.
“Kami mendorong generasi muda untuk menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah yang menyejukkan dan positif, tanpa harus menyalahkan kelompok yang berbeda pandangan,” ujar Ustad Mulyono.
Dari sisi perlindungan sosial, Drs. Setiyo Nastiarwo selaku Fasilitator Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Papua Barat Daya, menyoroti kerentanan perempuan dan anak terhadap paparan radikalisme digital. Menurutnya, literasi digital di dalam keluarga merupakan benteng pertahanan utama.
“Orang tua harus lebih aktif mengawasi aktivitas anak di dunia maya. Kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk melindungi mereka dari pengaruh negatif konten radikal,” pungkas Setiyo.
Diskusi yang dipandu oleh penyiar RRI, Lucy, ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat di Papua Barat Daya. Dengan edukasi berkelanjutan dan sinergi yang kuat, diharapkan tercipta lingkungan digital yang sehat, aman, dan bersih dari pengaruh paham radikal. (Timo)
