RADAR-BLAMBANGAN.COM, | JAKARTA — Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti asal Aceh, Rifqi Maulana, mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk membangun budaya menyampaikan pendapat yang tetap mengedepankan etika, adab, serta penghormatan terhadap hukum dan institusi negara.
Koordinator Presidium Persatuan Pemuda Aceh Serantau itu menyampaikan pandangan tersebut melalui Forum Kebangsaan Merah Putih bertajuk “Suara Masyarakat untuk Polri”. Menurut Rifqi, ruang demokrasi harus menjadi tempat untuk menyampaikan gagasan dan kritik secara konstruktif, bukan menjadi ruang untuk saling menjatuhkan.
“Menjaga keamanan Indonesia bukan hanya tugas Polri. Mahasiswa punya tanggung jawab, masyarakat punya tanggung jawab, kita semua punya tanggung jawab,” ujar Rifqi.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam kehidupan kebangsaan. Kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari demokrasi, tetapi kebebasan tersebut perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab.
Rifqi menilai kritik terhadap pemerintah maupun institusi negara merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, kritik sebaiknya disampaikan dengan argumentasi, data, dan solusi tanpa mengabaikan etika dalam berkomunikasi.
“Kami ingin menjadi generasi yang berani menyampaikan pendapat dengan mengedepankan etika dan adab. Berani mengoreksi, tetapi tidak menanam kebencian,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang terus menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Bagi Rifqi, terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang kondusif tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat keamanan. Masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki peran penting melalui partisipasi yang positif.
“Kami menghargai dan menghormati setiap anggota kepolisian yang bekerja tulus menjaga keamanan, berdiri di tengah masyarakat dan mengabdikan dirinya kepada bangsa ini,” tuturnya.
Rifqi berharap hubungan antara mahasiswa, pemuda, masyarakat, dan Polri dapat terus dibangun melalui komunikasi yang terbuka. Menurutnya, memberikan dukungan kepada Polri tidak berarti menghilangkan sikap kritis, melainkan menghadirkan kritik yang mampu menjadi masukan untuk perbaikan.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak dalam perbedaan yang berujung pada permusuhan. Perbedaan pandangan, kata dia, semestinya menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang dapat memperkuat persatuan.
“Persatuan tidak boleh menjadi cita-cita yang kehilangan pijakan. Kita harus bersama-sama merawat Kamtibmas, menjaga persatuan dan memastikan perbedaan menjadi kekuatan bangsa,” pungkasnya.
Sikap tersebut menjadi bagian dari komitmen Rifqi sebagai mahasiswa hukum untuk mendorong generasi muda agar aktif dalam kehidupan demokrasi, sekaligus tetap menjunjung tinggi etika, adab, hukum, dan semangat persatuan nasional.***
