RADAR-BLAMBANGAN.COM, | SURABAYA – Perselisihan terkait mobil BMW yang terparkir di kawasan Park Shanghai, Pakuwon City, Surabaya, kembali menjadi sorotan. Perkara yang sebelumnya berkembang menjadi saling lapor tersebut kini mendapat perhatian dari Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (Konjen RRT) di Surabaya.
Perhatian tersebut dituangkan melalui surat resmi yang ditujukan kepada Kapolrestabes Surabaya. Dalam surat tersebut, Konjen RRT pada pokoknya meminta agar proses penanganan perkara dilakukan secara cermat, transparan dan tidak dibangun hanya berdasarkan satu versi keterangan.
Konjen RRT menyoroti adanya perbedaan versi antara pelapor dan terlapor mengenai pokok peristiwa.
Karena itu, menurut isi surat tersebut, penyidik perlu memastikan secara menyeluruh identitas dan kedudukan masing-masing pihak, tindakan konkret yang dilakukan setiap orang, serta ada atau tidaknya kehendak maupun kerja sama dalam suatu peristiwa pidana.
Konjen RRT juga menekankan pentingnya pemeriksaan seluruh pihak dan bukti yang relevan secara utuh sebelum kesimpulan hukum ditarik.
“Kesimpulan hukum terhadap peristiwa yang sebenarnya terjadi tersebut sepatutnya tidak dibangun hanya berdasarkan satu versi, melainkan berdasarkan pemeriksaan seluruh pihak dan bukti yang relevan secara utuh,” demikian substansi surat tersebut.
Perkembangan lain yang menjadi perhatian dalam perkara ini adalah adanya rekaman video saat terjadi keributan.
Berdasarkan rekaman yang menjadi bagian dari materi perkara, terlihat S berada di tengah situasi keributan dan berupaya melakukan peleraian.
Rekaman tersebut menjadi penting untuk menguji tuduhan mengenai tindakan fisik yang dilakukan masing-masing pihak.
Dengan adanya rekaman visual, konstruksi peristiwa semestinya tidak hanya bertumpu pada keterangan pihak-pihak yang terlibat, tetapi juga diuji dengan bukti elektronik serta keterangan saksi lainnya.
Dalam perkara seperti ini, satu rekaman video dapat menjadi bagian penting untuk mengurai siapa melakukan apa, siapa berada di posisi mana, serta bagaimana rangkaian kejadian sebenarnya berlangsung.
Sebelumnya, persoalan bermula dari parkir mobil BMW milik S di kawasan Park Shanghai. Perselisihan kemudian berkembang setelah terjadi perdebatan antara pihak-pihak yang terlibat.
Peristiwa tersebut kemudian berujung pada laporan polisi dari masing-masing pihak.
S sebelumnya menyampaikan versinya bahwa dirinya tidak melakukan pemukulan terhadap F.
Ia menyebut dirinya justru berusaha melerai ketika situasi memanas.
Sementara itu, pihak lain memiliki versi berbeda terkait kejadian tersebut.
Perbedaan keterangan inilah yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam penanganan perkara.
Dengan adanya surat Konjen RRT dan rekaman video, publik kini menunggu bagaimana langkah Polrestabes Surabaya dalam menangani perkara tersebut.
Apakah seluruh pihak yang berada di lokasi telah diperiksa ?
Apakah rekaman CCTV dan video kejadian telah dianalisis secara menyeluruh?
Siapa sebenarnya yang melakukan tindakan fisik dalam keributan tersebut?
Dan yang tidak kalah penting, bagaimana penyidik mengurai peran masing-masing orang yang berada di lokasi kejadian?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar proses hukum tidak hanya menghasilkan kesimpulan berdasarkan pengakuan atau keterangan salah satu pihak.
Konjen RRT sendiri melalui suratnya telah mengingatkan pentingnya pemeriksaan yang menyeluruh terhadap seluruh pihak dan bukti sebelum kesimpulan hukum ditetapkan.
Kini bola berada di tangan aparat penegak hukum.
Publik menunggu transparansi Polrestabes Surabaya dalam mengungkap peristiwa sebenarnya di balik kasus BMW Park Shanghai tersebut.
