RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Keberhasilan Banyuwangi mengembangkan potensi kelautan berbasis pemberdayaan masyarakat kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional. Delegasi peserta forum ASEAN-ID Blue 2026 memberikan apresiasi terhadap konsep ekonomi biru yang diterapkan di wilayah tersebut, khususnya melalui keterlibatan aktif komunitas nelayan dan masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistem laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Kunjungan lapangan ke Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng dan Bangsring Underwater menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian forum internasional yang berlangsung pada 16–19 Juli 2026 di Banyuwangi. Para delegasi dari negara-negara ASEAN, East Asia Summit (EAS), serta Pacific Islands Forum (PIF) melihat secara langsung praktik pengelolaan ekonomi biru yang dinilai mampu memadukan aspek konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan sektor pariwisata.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Banyuwangi sebagai tuan rumah forum internasional tersebut. Menurutnya, kegiatan itu menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring sekaligus bertukar pengalaman mengenai pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.
“Forum ini menjadi kesempatan berharga bagi Banyuwangi untuk belajar sekaligus memperkenalkan berbagai praktik baik dalam pengembangan ekonomi biru yang melibatkan masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri RI, Zelda Wulan Kartika, menilai masa depan ekonomi biru kawasan ASEAN akan sangat ditentukan oleh daerah-daerah yang mampu menggerakkan kolaborasi antara pemerintah, koperasi nelayan, pelaku UMKM, dan komunitas konservasi.
Menurutnya, Banyuwangi telah menunjukkan bahwa komitmen besar dalam forum internasional dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat pesisir.
Salah satu lokasi yang paling menyita perhatian delegasi adalah Bangsring Underwater. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai wilayah perairan rusak akibat praktik penangkapan ikan menggunakan bom dan potasium itu kini menjelma menjadi destinasi ekowisata sekaligus kawasan konservasi yang menjadi rujukan berbagai daerah.
Transformasi tersebut dipelopori oleh Kelompok Nelayan Samudra Bhakti yang sejak 2012 mengubah pola pikir masyarakat untuk meninggalkan praktik penangkapan ikan yang merusak dan beralih pada upaya pelestarian laut.
Ketua Samudra Bhakti, Ikhwan Arief, menjelaskan bahwa perubahan dimulai melalui edukasi kepada para nelayan hingga akhirnya konservasi mampu berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat melalui sektor wisata bahari.
Kini Bangsring Underwater menawarkan berbagai aktivitas edukatif, mulai dari snorkeling di kawasan transplantasi terumbu karang, memberi makan ribuan ikan di rumah apung, hingga menikmati ikon patung penari Gandrung yang berada di dasar laut.
Tak hanya itu, konsep konservasi Bangsring juga telah berkembang secara nasional. Sebanyak 51 kelompok nelayan dengan sekitar 2.000 anggota di berbagai daerah telah dibina, dan sekitar 72 persen di antaranya berhasil mengadopsi konsep konservasi serta ekowisata yang diterapkan di Banyuwangi.
Dalam kunjungan tersebut, para delegasi juga mengikuti kegiatan Coral Adoption dengan menanam bibit terumbu karang sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian ekosistem laut.
Director of Sectoral Development ASEAN Secretariat, Dr. Kanchana Wanichkorn, mengaku terkesan dengan keberhasilan masyarakat Bangsring mengubah kawasan yang sebelumnya rusak menjadi contoh nyata implementasi ekonomi biru.
Ia berharap praktik terbaik dari Banyuwangi dapat diperluas ke berbagai negara di kawasan ASEAN. Sekretariat ASEAN, lanjutnya, siap memfasilitasi kerja sama agar model pemberdayaan masyarakat pesisir seperti di Bangsring bisa direplikasi dalam skala yang lebih luas.
Sementara itu, di Kampung Nelayan Merah Putih Lateng, para delegasi mempelajari strategi hilirisasi sektor perikanan yang dijalankan melalui koperasi nelayan. Hasil tangkapan laut tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk kuliner bernilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik wisata pesisir Banyuwangi.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa sinergi antara konservasi lingkungan, inovasi ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat mampu menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu contoh penerapan ekonomi biru yang mendapat pengakuan dunia.(silvi)
