RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Bondowoso – Kualitas makanan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga menyangkut kebersihan, keamanan, kandungan gizi, serta proses pengolahan yang harus memenuhi standar. Atas dasar itu, Polsek Curahdami bersama Forkopimcam Plus Curahdami turun langsung melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap sejumlah Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kecamatan Curahdami, Kamis (23/7/2026).
Langkah tersebut menjadi bentuk komitmen bersama untuk memastikan makanan yang disalurkan kepada masyarakat penerima manfaat benar benar diolah melalui proses yang higienis, didukung sarana prasarana yang memadai, serta memenuhi ketentuan keamanan pangan dan standar gizi.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB itu dilaksanakan berdasarkan Surat Kepala Kecamatan Curahdami Nomor 005/440/430.11.7/2026 tertanggal 22 Juli 2026.
Monev dipimpin langsung Kapolsek Curahdami AKP Muktamar, S.H., bersama Camat Curahdami Guruh Purnama P.S., S.STP., M.Si., Danramil Curahdami Kapten Inf Heri Purwanto, Kepala UPTD Puskesmas Curahdami dr. Pong Hariadi Susetyo, Kepala Komando Rumah Yonif 514/SY Kapten Inf Eddy Sabara, Ahli Gizi UPTD Puskesmas Curahdami Shanti Rahayu, S.St., serta pengurus yayasan mitra dan para Kepala Dapur SPPG Curahpoh 1, Curahpoh 2, dan Poncogati.
Tim tidak hanya melakukan pemeriksaan dari sisi administrasi, tetapi juga melihat secara langsung kondisi dapur, sarana dan prasarana, bahan baku, hingga proses pengolahan makanan. Setiap temuan yang dinilai perlu mendapatkan perhatian langsung disampaikan kepada pengelola sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.
SPPG Curahpoh 2 Asmil Yonif 514/SY
Pada peninjauan di SPPG Curahpoh 2 Asmil Yonif 514/SY, tim menemukan sejumlah hal yang perlu segera dibenahi. Di antaranya sirkulasi udara yang dinilai belum optimal, keterbatasan jumlah dan kapasitas alat pembasmi serangga, serta ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) yang belum mencukupi.
Selain itu, ditemukan kerusakan pada bagian lantai dan kran air yang juga perlu segera diperbaiki.
Tim mengingatkan pengelola agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya debu dan berkembangnya bakteri maupun kuman, terlebih kondisi cuaca yang sedang berangin. Pengelola juga diminta bijak menyikapi informasi yang beredar dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Dari sisi kandungan gizi, makanan yang disalurkan dinilai telah memenuhi standar. Meski demikian, pengelola diminta terus menjaga kualitas dan variasi menu agar tetap dapat diterima dengan baik oleh masyarakat penerima manfaat.
Seluruh catatan terkait sarana prasarana diminta segera ditindaklanjuti. Pengelola juga didorong melibatkan pelaku UMKM di sekitar lokasi dalam pemenuhan kebutuhan operasional, sehingga keberadaan SPPG tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.
Tim turut mengingatkan pengelola agar terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat serta melakukan evaluasi secara nyata. Penambahan daya listrik juga disarankan untuk mengantisipasi risiko gangguan kelistrikan dan korsleting.
SPPG Curahpoh 1
Sementara itu, di SPPG Curahpoh 1, tim menemukan tabung gas untuk pemanas air yang masih sering dibuka dan dipasang kembali sehingga belum terpasang secara permanen.
Jumlah APAR juga dinilai masih kurang karena belum tersedia di setiap ruangan. Tim turut menemukan beberapa butir telur yang belum dibersihkan secara optimal sebelum masuk dalam proses pengolahan.
Atas temuan tersebut, pengelola diminta segera memasang tabung gas secara permanen untuk meningkatkan keamanan operasional. Ketersediaan APAR juga harus dilengkapi dengan ketentuan minimal dua unit di setiap ruangan kerja.
Tim menegaskan bahwa seluruh bahan baku, khususnya telur, wajib dibersihkan dengan standar kebersihan yang ketat sebelum diolah menjadi makanan.
Selain melakukan perbaikan terhadap catatan hasil monev, pengelola juga diminta terbuka dalam menerima aspirasi penerima manfaat sepanjang tetap sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku.
SPPG Poncogati
Peninjauan berikutnya dilakukan di SPPG Poncogati. Di lokasi ini, tim menemukan jalur pengembalian alat ompreng yang masih melewati ruang produksi makanan.
Selain itu, alat pembasmi serangga ditemukan tergantung tepat di atas area pengolahan makanan. Kondisi kamar mandi juga masih berada dalam satu ruangan dengan area produksi dan penyimpanan bahan.
Tim kemudian memberikan arahan agar jalur pengembalian alat ompreng diubah sehingga tidak lagi melewati area pengolahan makanan. Pintu kamar mandi juga diminta dipindahkan keluar dari ruang produksi dan tempat penyimpanan bahan.
Sementara posisi alat pembasmi serangga harus digeser menjauh dari meja pemorsian maupun area pengolahan untuk mencegah potensi kontaminasi terhadap makanan.
Kapolsek Curahdami: Pengawasan Bukan untuk Mencari Kesalahan
Kapolsek Curahdami AKP Muktamar, S.H., kepada awak media MasBhabinNews, menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama untuk memastikan program pemenuhan gizi berjalan dengan standar pelayanan yang baik.
Menurutnya, pengawasan dilakukan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai langkah preventif agar setiap kekurangan dapat segera diperbaiki sebelum berdampak terhadap kualitas makanan yang diterima masyarakat.
“Kami bersama Forkopimcam Plus ingin memastikan setiap makanan yang disajikan kepada penerima manfaat benar benar sehat, bergizi, higienis, dan diolah dengan memperhatikan standar keamanan pangan. Setiap catatan yang ditemukan di lapangan akan menjadi bahan evaluasi bersama untuk segera diperbaiki. Kami berharap pengelola SPPG tidak melihat masukan sebagai kritik semata, tetapi sebagai bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi masyarakat,” ujar AKP Muktamar kepada awak media Mas BhabinNews.
Kapolsek menambahkan, sinergitas antara Polri, TNI, pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, ahli gizi, pengelola yayasan, dan seluruh pihak terkait menjadi kekuatan penting dalam menjaga kualitas program pemenuhan gizi.
“Ketika semua unsur bergerak bersama, maka pengawasan akan lebih kuat dan setiap persoalan dapat segera ditemukan solusinya. Prinsip kami sederhana, makanan yang diberikan kepada masyarakat harus benar benar layak, aman, bersih, dan memberikan manfaat bagi kesehatan,” tegasnya.
Para pengelola dapur SPPG yang menjadi sasaran monitoring menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti seluruh catatan dan arahan yang disampaikan tim.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan, tetapi juga oleh ketelitian dalam setiap proses, mulai dari pemilihan bahan baku, kebersihan dapur, pengolahan, hingga makanan diterima oleh masyarakat.
Dengan pengawasan yang dilakukan secara konsisten dan sinergi lintas sektor yang terus diperkuat, diharapkan setiap sajian yang keluar dari dapur SPPG bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menjaga kesehatan dan masa depan generasi penerus.
Sebab, dari dapur yang bersih lahir makanan yang sehat, dan dari makanan yang sehat tumbuh generasi yang kuat. (Ims)
