RADAR BLAMBANGAN.COM, | KABUPATEN MALANG – Polemik penarikan tiket di kawasan wisata Pantai Ngliyep dan Pantai Pasir Panjang masih menjadi perhatian berbagai pihak. Meski demikian, para pengelola wisata berharap persoalan tersebut tidak berkepanjangan agar kunjungan wisatawan ke Malang Selatan kembali meningkat.
Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Pantai Pasir Panjang, Arifin, menyampaikan bahwa pihaknya siap duduk bersama dengan seluruh pihak terkait guna mencari solusi terbaik atas persoalan loket tiket yang saat ini menjadi sorotan masyarakat.
Menurut Arifin, pihak pengelola Pasir Panjang berharap sistem loket tiket dapat kembali disatukan seperti sebelumnya agar wisatawan lebih nyaman saat berkunjung ke kawasan pantai selatan tersebut.
“Kami siap duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. Harapannya nanti bisa kembali satu loket seperti dulu supaya wisatawan juga lebih nyaman,” ujar Arifin.
Ia juga mengaku khawatir apabila polemik terus berkembang dan berdampak terhadap hubungan para pekerja wisata di lapangan. Padahal selama ini, menurutnya, karyawan Perumda Jasa Yasa dan karyawan Pantai Pasir Panjang tetap hidup rukun dan saling menghormati.
“Kami khawatir polemik ini berdampak ke bawah. Padahal karyawan PD Jasa Yasa dan karyawan Pasir Panjang setiap hari ketemu, rukun dan baik-baik saja,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak adanya pemisahan loket tiket, dampaknya cukup terasa terhadap jumlah kunjungan wisatawan maupun omset pelaku usaha di kawasan wisata.
“Kami sangat menyayangkan setelah ada pemisahan loket ini, dampaknya omset wisata menurun. Tidak hanya Pasir Panjang, tetapi juga berpengaruh terhadap kunjungan wisata di sekitar kawasan,” tambahnya.
Meski tengah terjadi polemik, Arifin memastikan hubungan masyarakat dan para pekerja wisata di lapangan sebenarnya tetap baik dan saling mendukung. Menurutnya, seluruh pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keberlangsungan wisata dan ekonomi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Kepala Unit Pantai Ngliyep yang juga bernama Arifin menyampaikan bahwa pihaknya saat ini hanya menjalankan arahan dari pimpinan terkait penataan loket tiket wisata.
“Kami mengikuti perintah dari pusat,” singkatnya.
Ia menambahkan bahwa keputusan terkait sistem loket sepenuhnya menjadi kewenangan pimpinan Perumda Jasa Yasa.
“Saya di bawah mengikuti perintah dari atasan. Jika loket disatukan kembali ataupun dipisah, saya juga ikut arahan dari Direktur Jasa Yasa,” ujarnya.
Di sisi lain, Teguh, salah satu warga sekaligus pedagang di kawasan wisata, berharap persoalan tersebut segera menemukan titik terang agar citra wisata Malang Selatan tetap positif di mata wisatawan.
Menurutnya, masyarakat khawatir jika polemik terus berlanjut maka pengunjung akan enggan datang karena munculnya persepsi negatif terhadap kawasan wisata tersebut.
“Yang kami takutkan wisatawan jadi malas datang karena mendengar polemik ini. Padahal pantainya tetap indah dan masyarakat di sini juga tetap ramah kepada pengunjung,” katanya.
Pembina wisata Malang Selatan juga berharap DPRD Kabupaten Malang dapat memfasilitasi hearing atau pertemuan bersama agar seluruh pihak bisa duduk bersama mencari solusi yang adil dan tidak merugikan masyarakat kecil.
“Mudah-mudahan polemik ini cepat selesai karena masyarakat di bawah sampai karyawan sebenarnya rukun dan baik, saling mendukung. Kami berharap DPRD bisa memfasilitasi hearing agar semua pihak bisa duduk bersama,” ujarnya.
Terlepas dari persoalan yang terjadi, kawasan Pantai Ngliyep dan Pantai Pasir Panjang tetap menjadi destinasi favorit wisatawan karena memiliki panorama alam yang indah, pasir putih, serta suasana pantai selatan yang masih alami.
Masyarakat pun berharap wisatawan tetap datang berkunjung dan menikmati keindahan wisata Malang Selatan sambil menunggu penyelesaian polemik yang saat ini sedang dibahas bersama pemerintah daerah dan pihak terkait.
(Fin/Her)
