Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.
(Sekbid Organisasi & Kaderisasi PGRI Banyuwangi)
RADAR BLAMBANGAN.COM, | Pertemuan antara jajaran Pengurus PGRI Kabupaten Banyuwangi Selasa. 02, Juli 2026 yang dipimpin langsung oleh Ketua PGRI Kabupaten Banyuwangi, Sudarman, S.Pd., M.Si. (Akung Darman), dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi merupakan langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara organisasi profesi guru dan pemerintah daerah. Hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si., didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah, Suratno, S.Pd., M.Pd., serta Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog yang produktif untuk membahas berbagai persoalan strategis yang berkaitan dengan masa depan pendidikan dan kesejahteraan guru di Kabupaten Banyuwangi.
Dalam kesempatan tersebut, Akung Darman menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan berbagai aspirasi guru, baik yang berkaitan dengan kesejahteraan, perlindungan profesi, peningkatan kompetensi, maupun kepastian kebijakan yang berpihak kepada tenaga pendidik. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan organisasi profesi tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif, melainkan harus mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara guru dengan pemerintah. PGRI harus hadir sebagai organisasi perjuangan yang mampu mengawal setiap kebijakan agar tetap berpihak pada kepentingan dunia pendidikan.
Perjuangan tersebut patut diapresiasi karena dilakukan dengan semangat merangkul seluruh guru tanpa memandang latar belakang, pilihan, maupun dinamika organisasi yang pernah terjadi. PGRI pernah mengalami fase perbedaan pandangan yang melahirkan fragmentasi internal. Namun, dinamika tersebut tidak boleh terus dipelihara menjadi sekat yang menghambat kemajuan organisasi. Organisasi profesi yang kuat adalah organisasi yang mampu mengubah perbedaan menjadi energi kolaboratif, menjadikan rekonsiliasi sebagai kekuatan, dan menempatkan kepentingan guru di atas kepentingan kelompok ataupun individu.
Momentum pertemuan ini sekaligus menjadi pesan bahwa masa depan PGRI Banyuwangi harus dibangun di atas fondasi persatuan, profesionalisme, dan integritas organisasi. Tidak ada lagi ruang bagi politik internal yang menguras energi, memecah solidaritas, atau mengalihkan fokus dari persoalan utama yang dihadapi para guru. Tantangan pendidikan semakin kompleks, sehingga organisasi profesi dituntut untuk lebih banyak bekerja, berdialog, dan menghasilkan solusi daripada terjebak dalam konflik yang tidak produktif. Kepemimpinan akan memperoleh legitimasi bukan karena kemenangan dalam dinamika organisasi, melainkan karena keberhasilannya menghadirkan manfaat nyata bagi seluruh anggota.
Ke depan, seluruh elemen PGRI Banyuwangi diharapkan mampu meninggalkan polarisasi yang pernah terjadi dan membangun budaya organisasi yang inklusif. Guru adalah pilar utama pembangunan sumber daya manusia, sehingga organisasi yang menaungi mereka harus menjadi teladan dalam membangun persatuan, etika, dan semangat pengabdian. Perbedaan adalah bagian dari dinamika demokrasi organisasi, tetapi persatuan adalah syarat mutlak untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Oleh karena itu, setiap langkah yang ditempuh harus diarahkan pada satu tujuan besar, yaitu menghadirkan PGRI Kabupaten Banyuwangi sebagai organisasi profesi yang kuat, berwibawa, independen, dan benar-benar menjadi rumah perjuangan bagi seluruh guru tanpa memandang kubu, golongan, maupun sejarah perbedaan yang pernah ada.
HS.
