RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI, – Semangat kompetisi yang berpadu dengan nilai-nilai keislaman mewarnai pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah Takmiliyah (Porsadin) Kecamatan Banyuwangi Tahun 2026 yang digelar di Madin At Taqwa Wustho, kompleks MA Muhammadiyah 1 Pakis Duren Banyuwangi, Ahad (14/6/2026).
Kegiatan yang mempertemukan santri Madrasah Diniyah Takmiliyah dari berbagai lembaga di Kecamatan Banyuwangi tersebut menjadi wadah strategis untuk mengembangkan bakat, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus memperkuat pembinaan karakter generasi muda.
Dengan mengusung tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa”, Porsadin tahun ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi, tetapi juga menanamkan nilai sportivitas, kebersamaan, dan akhlakul karimah kepada seluruh peserta.
Berbagai cabang perlombaan diselenggarakan dalam ajang tersebut, meliputi Tahfidz Juz Amma, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Murottal wal Imla’, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, Adzan, hingga Puisi Islami. Setiap peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam suasana kompetisi yang sehat dan penuh semangat persaudaraan.
Lomba Puisi Islami menjadi salah satu cabang yang menarik perhatian. Selain menguji kemampuan membaca karya sastra, perlombaan ini juga menuntut peserta untuk mampu menghayati dan menyampaikan pesan moral serta nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam setiap bait puisi.
Untuk memastikan kualitas penilaian, panitia menghadirkan dua tokoh seni dan budaya Banyuwangi, yakni H. Bambang Lukito dari Dewan Kesenian Belambangan serta H. Syafaat, ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga dikenal sebagai Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.
Menurut Syafaat, puisi memiliki peran penting sebagai sarana pendidikan karakter dan media dakwah yang efektif bagi generasi muda.
“Melalui puisi, anak-anak tidak hanya belajar tentang keindahan bahasa, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai kemanusiaan, keimanan, dan kasih sayang yang menjadi bagian penting dalam kehidupan,” ujarnya.
Pada cabang ini, panitia menetapkan sejumlah karya sastra bernuansa religius sebagai materi wajib, di antaranya Ibu karya Gus Mus, Ketika Engkau Bersembahyang karya Cak Nun, Doa karya Chairil Anwar, Sajadah Panjang karya Taufiq Ismail, dan Tiarap karya KH D. Zawawi Imron. Pemilihan karya tersebut dimaksudkan untuk memperkaya apresiasi sastra sekaligus memperkuat pemahaman nilai spiritual para peserta.
Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., mengapresiasi penyelenggaraan Porsadin Kecamatan Banyuwangi yang dinilainya berlangsung sukses, tertib, dan penuh antusiasme.
Ia menegaskan bahwa Porsadin merupakan instrumen penting dalam proses pembinaan santri karena mampu mengintegrasikan pengembangan kemampuan akademik, seni, dan keagamaan dengan pembentukan karakter.
“Porsadin bukan semata-mata tentang kompetisi dan pencarian juara. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini mampu menanamkan nilai akhlak, memperkuat persaudaraan, dan membentuk generasi yang memiliki karakter kuat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai keberadaan Madrasah Diniyah Takmiliyah memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Di tengah dinamika perkembangan teknologi dan tantangan sosial yang semakin kompleks, madrasah diniyah tetap menjadi benteng pendidikan moral bagi anak-anak.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan diniyah, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan, menjadi indikator semakin tingginya kesadaran akan pentingnya pendidikan agama sebagai fondasi pembentukan karakter generasi penerus.
Melalui ajang Porsadin, harapan untuk melahirkan generasi Qur’ani yang cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia terus dipupuk. Dari setiap lantunan ayat suci, gema adzan, pidato, hingga pembacaan puisi yang ditampilkan para santri, tersirat komitmen bersama untuk membangun masa depan bangsa melalui pendidikan yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak.***
