RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Mojokerto – Upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap bahaya rokok dan anemia terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto sebagai bagian dari pencegahan stunting. Edukasi tersebut diadakan kembali melalui Program Remaja Sehat Cegah Rokok dan Anemia (Praja Satria) di SMKS Pesantren Terpadu, Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Jum’at (21/8) pagi.
Kegiatan tersebut dihadiri istri Wakil Bupati Mojokerto, dr. Amelia Fitri Hudani Oktavianus. Kegiatan diawali dengan senam pagi bersama, kemudian dilanjutkan dengan meninjau sekolah UMKM yang menampilkan produk karya siswa, serta edukasi mengenai bahaya rokok, pencegahan anemia, menyediakan gizi, dan kaitannya dengan pencegahan stunting.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Amelia Fitri pentingnya membangun pola hidup sehat sejak remaja. Menurutnya, remaja merupakan calon orang tua sehingga perlu dibekali pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi sejak dini.
“Remaja hari ini adalah calon orang tua di masa depan. Oleh karena itu, sejak sekarang harus dibekali dengan pengetahuan dan kebiasaan hidup sehat,” ujar bu dr. amelia.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak rokok tidak hanya dirasakan oleh masyarakat aktif, tetapi juga orang-orang di sekitarnya yang terpapar asap rokok.
“Jangan sampai kebiasaan merokok justru memberikan dampak kepada orang lain. Lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Selain bahaya rokok, pencegahan anemia juga menjadi perhatian, khususnya bagi remaja putri. Pemenuhan gizi seimbang dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan remaja sekaligus mempersiapkan generasi yang sehat.
Data Asesmen Hasil Program Kegiatan Sekolah Bareng Dokter Spesialis Anak (DPSA) Kabupaten Mojokerto tahun 2024 menunjukkan paparan asap rokok dan polusi menjadi salah satu kendala terbesar dalam intervensi anak usia 0–60 bulan di 27 Puskesmas, dengan persentase mencapai 65 persen.
Oleh karena itu, pencegahan stunting memerlukan keterlibatan bersama, termasuk melalui penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), skrining kesehatan, pembentukan kelompok sebaya sebagai agen perubahan, serta penguatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).
“Harapannya, edukasi ini tidak berhenti sebagai pengetahuan saja. Anak-anak dan remaja bisa menjadi agen perubahan dengan mulai menjaga kesehatan diri dan mengajak teman serta keluarga untuk hidup lebih sehat,” tutupnya.
(Mahmudah)
