Oleh:
Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.
RADAR BLAMBANGAN.COM, | Pelaksanaan Ritual Sedekah Segoro yang diselenggarakan pada tanggal 16 Juni 2026 di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, merupakan sebuah momentum budaya dan spiritual yang memiliki nilai strategis dalam memperkuat harmoni sosial masyarakat. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi antara berbagai elemen masyarakat, termasuk pihak ASDP, para pemuka agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha, serta para tokoh budayawan Banyuwangi. Kehadiran berbagai unsur keagamaan dan kebudayaan dalam satu ruang bersama menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi media pemersatu yang melampaui sekat-sekat perbedaan identitas.
Secara filosofis, Sedekah Segoro tidak hanya dimaknai sebagai sebuah ritual budaya yang berkaitan dengan laut, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan manusia terhadap alam serta ungkapan rasa syukur atas kehidupan dan keberlangsungan ekosistem yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. Laut dalam perspektif kebudayaan Nusantara sering dipandang memiliki nilai historis, sosial, dan spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, kegiatan doa bersama dan tabur bunga yang dilakukan di atas dua kapal, yaitu KMP Dharma Rucitra dan KMP Pratitha, menjadi simbol hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam bingkai kearifan lokal.
Keunikan pelaksanaan kegiatan ini terlihat dari keterlibatan para pemuka agama yang secara bergantian memimpin doa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Hal tersebut mencerminkan praktik moderasi beragama yang nyata, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi alasan untuk terpisah, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan bersama. Masyarakat Banyuwangi menunjukkan bahwa keberagaman agama dapat berjalan beriringan dengan tradisi budaya, sehingga nilai toleransi tidak hanya menjadi konsep normatif, tetapi diwujudkan dalam tindakan sosial yang konkret.
Kolaborasi antara ASDP, tokoh agama, tokoh budaya, dan masyarakat dalam Ritual Sedekah Segoro juga menggambarkan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam menjaga kebudayaan daerah. Tradisi lokal yang dipelihara secara inklusif dapat menjadi instrumen pendidikan sosial bagi generasi mendatang mengenai pentingnya menghargai sejarah, menjaga lingkungan, serta membangun persaudaraan kemanusiaan. Dalam konteks masyarakat modern yang menghadapi berbagai tantangan berupa polarisasi dan konflik identitas, kegiatan semacam ini menjadi ruang dialog dan rekonsiliasi sosial.
Dengan demikian, Ritual Sedekah Segoro di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah refleksi nilai-nilai luhur masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, spiritualitas, dan penghormatan terhadap keberagaman. Melalui doa bersama dan tabur bunga di laut, masyarakat menyampaikan pesan bahwa kehidupan yang harmonis dapat dibangun ketika manusia mampu menghargai perbedaan, merawat budaya, dan bersama-sama menjaga hubungan yang baik antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
HS.
