RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Bulan Suro, Paguyuban Panji Blambangan (Paguyuban Pelestari Tosan Aji Blambangan Banyuwangi) menggelar Gelar Budaya Keris 2026 di kawasan Cafe Museum Banyoewangi Tempo Doeloe, lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada 16–19 Juni 2026 tersebut dihadiri sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Punjul Ismu Wardoyo dari Padepokan Alang-Alang Kumitir, penyair Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Hariyono dari Kiling Osing Banyuwangi, penyanyi sekaligus pencipta lagu Osing Yons DD, serta budayawan senior Ki Pramoe Karno Sakti. Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan dukungan terhadap upaya pelestarian warisan budaya, khususnya tosan aji sebagai bagian dari identitas bangsa.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah tradisi jamasan pusaka, yaitu prosesi pembersihan keris, tombak, dan berbagai benda pusaka lainnya yang telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Jawa menjelang malam 1 Suro. Selain jamasan, kegiatan juga diisi dengan pameran pusaka, konsultasi tangguh keris, edukasi perawatan tosan aji, serta layanan sertifikasi pusaka.
Prosesi jamasan dipandu oleh KRT Ilham Triadi Nagoro, budayawan, kurator pusaka nasional, sekaligus asesor keris LSP Perkerisan Indonesia yang telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Menurut Ilham, pelaksanaan jamasan bukan sekadar ritual membersihkan benda pusaka, tetapi merupakan bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai budaya sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai sejarah, filosofi, dan makna yang terkandung dalam setiap tosan aji.
“Bulan Suro dipilih karena merupakan momentum awal tahun baru yang baik untuk memulai segala sesuatu dengan energi yang bersih. Jamasan bukan hanya membersihkan fisik pusaka, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia membersihkan hati dan memperkuat nilai-nilai kebajikan,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, ruang Pelinggihan Disbudpar Banyuwangi disulap menjadi galeri pameran yang menampilkan berbagai koleksi keris dari berbagai periode, mulai masa Kerajaan Singhasari, Majapahit, hingga Blambangan. Pameran tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat perkembangan sejarah dan budaya perkerisan di Nusantara.
Panji Blambangan juga membuka layanan konsultasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui estimasi usia atau tangguh pusaka yang dimiliki, sekaligus memperoleh penjelasan mengenai teknik perawatan yang benar agar kondisi pusaka tetap terjaga.
“Khusus tahun ini kami juga menyelenggarakan layanan sertifikasi pusaka dan tosan aji. Harapannya, masyarakat semakin memahami nilai sejarah dan budaya yang dimiliki setiap pusaka sehingga dapat dirawat dan dilestarikan dengan baik,” jelas Ilham.
Ia menegaskan bahwa keris tidak seharusnya dipandang semata-mata dari aspek mistis, melainkan sebagai karya budaya yang memiliki nilai sejarah, seni, teknologi, dan filosofi yang tinggi.
“Generasi muda harus mengetahui bahwa keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan simbol jati diri dan identitas budaya bangsa yang perlu dijaga keberadaannya,” tegasnya.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian wisatawan mancanegara. Seorang wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard, mengaku terkesan melihat benda-benda pusaka berusia ratusan tahun yang masih dirawat dengan baik oleh masyarakat Banyuwangi.
Melalui Gelar Budaya Keris 2026, Paguyuban Panji Blambangan berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa, sekaligus menjadikan tradisi perkerisan sebagai media edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.***
