RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Aceh Besar – Persoalan tingginya biaya pakan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan usaha peternakan ayam masyarakat. Menjawab persoalan tersebut, Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong masyarakat Gampong Reudeup memanfaatkan potensi limbah lokal berupa ikan dan sayuran untuk diolah menjadi pakan ternak.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui program “Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Gampong Reudeup melalui Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah Ikan dan Sayuran menjadi Pakan Ternak Ayam Produktif” yang dilaksanakan oleh tim dosen USK dengan dukungan pendanaan PTNBH Universitas Syiah Kuala.
Selama ini, limbah ikan dan sayuran masih memiliki potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, peternak ayam menghadapi kebutuhan pakan yang relatif tinggi sehingga biaya pakan menjadi salah satu komponen penting dalam pengeluaran usaha.
Melalui program pemberdayaan ini, kedua persoalan tersebut dipertemukan dalam satu pendekatan. Limbah yang tersedia di lingkungan masyarakat diarahkan menjadi bahan baku alternatif untuk produksi pakan ayam.
Ketua tim pelaksana, Mujiburrahmad, S.P., M.Si., mengatakan bahwa pemanfaatan limbah lokal diharapkan dapat memberikan manfaat ganda bagi masyarakat.
“Limbah yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Pada saat yang sama, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan,” katanya.
Dilengkapi Teknologi Tepat Guna
Agar masyarakat mampu melakukan proses pengolahan secara mandiri, tim USK menghadirkan satu paket teknologi tepat guna pengolahan pakan.
Paket teknologi tersebut mencakup mesin penggiling, mesin pencacah, mixer, dan mesin pelet. Peralatan digunakan untuk mendukung tahapan pengolahan bahan baku hingga menghasilkan pakan dalam bentuk pur dan pelet.
Penggunaan mesin diharapkan membuat proses pengolahan menjadi lebih mudah, efisien, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan oleh kelompok masyarakat.
Selain penyediaan peralatan, kegiatan juga disertai dengan pelatihan dan pendampingan. Masyarakat diberikan pengetahuan mengenai pengolahan bahan baku, teknik pembuatan pakan, serta formulasi nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan ternak ayam.
Dengan adanya transfer teknologi dan pengetahuan tersebut, anggota kelompok diharapkan tidak hanya mampu menggunakan mesin, tetapi juga memahami proses produksi pakan secara menyeluruh.
Target 50 Persen Kebutuhan Pakan Diproduksi Mandiri
Program pemberdayaan USK menargetkan sedikitnya 50 persen kebutuhan pakan ternak mitra dapat dipenuhi secara mandiri melalui pemanfaatan bahan baku lokal.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem peternakan yang lebih efisien dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.
Pada aspek kapasitas sumber daya manusia, program menargetkan minimal 80 persen anggota kelompok mampu memproduksi pakan secara mandiri.
Sementara dari aspek lingkungan, pemanfaatan limbah ikan dan sayuran ditargetkan mampu mengurangi limbah organik di lingkungan mitra hingga 50 persen.
Tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan sendiri, pakan yang dihasilkan juga diarahkan agar memiliki nilai ekonomi dan berpotensi dikembangkan sebagai produk yang dapat dipasarkan.
Mendorong Produktivitas Peternakan
Pemanfaatan pakan alternatif juga diarahkan untuk mendukung peningkatan produktivitas ternak. Melalui penggunaan pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ayam, program menargetkan peningkatan produktivitas sedikitnya 20 persen, baik pada usaha ayam petelur maupun ayam pedaging sesuai dengan jenis ternak yang dikembangkan masyarakat.
Program ini dilaksanakan secara lintas disiplin oleh dosen USK. Mujiburrahmad, S.P., M.Si. dari Program Studi Agribisnis mendukung aspek pemberdayaan masyarakat dan pengembangan usaha. Dr. Allaily, S.Pt., M.Si. dari Program Studi Peternakan mendukung aspek ternak unggas dan teknologi pakan. Sedangkan Dr. Muhammad Idkham, S.TP., M.Si. dari Program Studi Teknik Pertanian mendukung aspek teknologi tepat guna dan dinamika mesin.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan pendekatan USK dalam mengintegrasikan ilmu agribisnis, peternakan, dan teknik pertanian untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Melalui program ini, Gampong Reudeup diharapkan dapat mengembangkan pola pemanfaatan limbah yang lebih produktif. Limbah ikan dan sayuran tidak lagi dipandang semata sebagai buangan, tetapi dapat menjadi sumber bahan baku yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Selain membantu peternak menekan ketergantungan terhadap pakan pabrikan, pemanfaatan limbah juga menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat masyarakat, yaitu mengubah bahan yang sebelumnya kurang bernilai menjadi produk yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan melalui sumber dana PTNBH Universitas Syiah Kuala.***
