RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Bukan sekadar duduk mendengarkan materi. Sebanyak 271 siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Banyuwangi, Kecamatan Srono, digembleng melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang digelar Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi tersebut menjadi momentum penting untuk membekali generasi muda sebelum mereka meninggalkan bangku madrasah dan memasuki dunia yang jauh lebih luas.
Lima kelompok siswa mengikuti pembinaan secara interaktif. Mereka diajak tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi juga belajar memahami diri sendiri, mengendalikan emosi, memilih lingkungan pergaulan, menghadapi tekanan sosial, hingga mengenali berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan.
Potensi diri, karakter remaja Qur’ani, kesehatan mental, pergaulan sehat, pencegahan kenakalan remaja, hingga bahaya narkoba menjadi bagian dari materi yang dikupas para fasilitator.
Suasana pembinaan berlangsung dinamis. Siswa didorong untuk aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, sekaligus berani membicarakan persoalan yang selama ini mungkin hanya mereka simpan sendiri.
Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Banyuwangi, H. Mastur, S.Ag., M.Pd.I., mengatakan BRUS menjadi bagian penting dalam menyiapkan siswa menghadapi fase kehidupan setelah lulus.
“Sebentar lagi mereka akan meninggalkan lingkungan madrasah dan terjun ke tengah masyarakat. Karena itu, mereka membutuhkan bekal yang lebih dari sekadar kemampuan akademik,” ujarnya.
Menurut Mastur, dunia setelah kelulusan merupakan arena yang penuh pilihan sekaligus tantangan. Remaja akan berhadapan dengan beragam karakter manusia, lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi, serta berbagai informasi yang tidak semuanya membawa pengaruh positif.
Karena itu, kemampuan mengenali potensi diri, mengendalikan emosi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan menjadi modal penting.
“Jangan sampai anak-anak kita pintar secara akademik, tetapi rapuh ketika menghadapi persoalan kehidupan. Mereka harus memiliki karakter, mental, dan pegangan moral yang kuat,” tegasnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menempatkan pembinaan remaja sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, masa depan masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda yang dipersiapkan hari ini.
“Remaja perlu mendapatkan pendampingan agar mampu mengenali dirinya, mengelola emosi, membangun pergaulan yang sehat, serta mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi berbagai pengaruh lingkungan maupun media sosial,” katanya.
Chaironi menambahkan, tantangan remaja saat ini tidak lagi hanya datang dari lingkungan sekitar. Arus informasi melalui media sosial bergerak begitu cepat dan dapat membentuk pola pikir maupun perilaku anak muda.
Karena itu, BRUS dirancang dengan cakupan pembinaan yang cukup luas, mulai dari aspek mental, emosional, sosial, kesehatan, karakter, pergaulan, hingga perencanaan masa depan.
Pembinaan tersebut sekaligus menjadi benteng preventif terhadap berbagai persoalan yang berpotensi mengancam masa depan remaja, seperti pernikahan usia anak, kekerasan, bullying, penyalahgunaan narkoba, serta perilaku seksual berisiko.
Di sisi lain, siswa juga diperkuat dengan kemampuan komunikasi, penyelesaian masalah, pengelolaan emosi, toleransi, moderasi, tanggung jawab, dan produktivitas.
Program BRUS semakin kuat karena melibatkan berbagai unsur. Fasilitator dari kalangan akademisi dan perguruan tinggi turut ambil bagian. Kolaborasi dengan lembaga terkait, termasuk LKKNU, juga menjadi bagian dari penguatan pembinaan generasi muda.
Kepala MAN 3 Banyuwangi, Bambang Irawan, menyambut positif pelaksanaan BRUS di madrasahnya.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Seksi Bimas Islam Kemenag Banyuwangi. Kegiatan ini sangat penting bagi anak-anak kami, khususnya siswa kelas XII yang sebentar lagi akan memasuki fase kehidupan berikutnya,” ungkapnya.
Bambang menilai, pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian nilai akademik. Siswa harus dipersiapkan agar memiliki karakter dan kecakapan hidup yang mampu menjadi bekal ketika mereka melanjutkan pendidikan maupun terjun ke masyarakat.
Program BRUS pun tidak berhenti di MAN 3 Banyuwangi. Seksi Bimas Islam Kemenag Banyuwangi merencanakan kegiatan tersebut berlangsung secara berkelanjutan di berbagai lokasi. Sepanjang 2026, pembinaan remaja usia sekolah ditargetkan dapat digelar setiap bulan untuk memperluas jangkauan penerima manfaat.
Antusiasme 271 siswa selama kegiatan menjadi gambaran bahwa remaja membutuhkan ruang untuk didengar, dibimbing, dan diberi bekal menghadapi kehidupan.
Sebab, setelah toga dan ijazah berada di tangan, kehidupan tidak selalu menyediakan ruang ujian dengan soal yang jelas. Ada pilihan, godaan, tekanan, kegagalan, dan keputusan yang harus diambil sendiri.
Di titik itulah BRUS hadir: membekali remaja bukan hanya agar mampu mengejar cita-cita, tetapi juga agar cukup kuat ketika berhadapan dengan realitas kehidupan.
Dari ruang kelas MAN 3 Banyuwangi, 271 siswa kelas XII dipersiapkan untuk melangkah lebih jauh membawa ilmu, karakter, keberanian, dan tanggung jawab sebagai bekal menghadapi masa depan. (dll)
