_Oleh: Letda Laut (Suplai) Ilham Fahruzi_
RADAR BLAMBANGAN.COM, | SURABAYA, 4 April 2026 – Dalam dunia usaha jual beli, keuntungan tidak hanya ditentukan dari selisih harga beli dan harga jual. Biaya operasional, khususnya transportasi, menjadi faktor krusial yang sering luput diperhitungkan pelaku usaha.
Letda Laut (S) Ilham Fahruzi, Perwira Korps Suplai TNI Angkatan Laut, membagikan strategi berdagang berbasis perhitungan realistis. Ia mencontohkan jalur distribusi dari Banyuwangi ke Kota Malang dan sekitarnya.
Rincian Biaya Transportasi Sekali Jemput-Antar
Berdasarkan data lapangan, biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali pengiriman meliputi:
1. BBM: Rp350.000 / sekali jemput antar
2. Sopir: Rp200.000 / hari
3. Makan + Rokok Sopir: Rp50.000 / sekali jemput antar
4. Sewa Mobil Angkut / Ekspedisi: Rp300.000 / hari
Total Operasional: Rp900.000
Contoh Perhitungan Laba Rugi
Ilham mencontohkan pembelian komoditas seharga Rp15.000/Kg. Jika membeli 1 Kwintal atau 100 Kg:
– Modal Beli: 100 Kg x Rp15.000 = Rp1.500.000
– Harga Jual: 100 Kg x Rp20.000 = Rp2.000.000
– Biaya Operasional: Rp900.000
Menggunakan rumus:
Netto = Brotto – (Beli + Operasional)
Netto = Rp2.000.000 – (Rp1.500.000 + Rp900.000) = Rp -400.000
Hasilnya justru rugi Rp400.000.
Kunci Agar Tidak Rugi
“Dalam dunia bisnis hitung-hitungannya wajib ada untung. Kalau sekiranya rugi, mendingan istirahat saja mobil angkutnya,” tegas Ilham.
Solusinya adalah menaikkan volume pembelian. Menurut perhitungannya, barang tersebut minimal harus dibeli sebanyak 3 Kwintal. Jika hanya membeli 2 Kwintal, hasilnya masih impas atau rugi waktu dan tenaga tanpa ada keuntungan.
Strategi ini mengingatkan para pelaku UMKM dan pedagang antar kota untuk tidak hanya fokus pada margin jual, tetapi juga memperhitungkan seluruh biaya operasional agar usaha tetap berjalan dan berkembang.
Kontak Media:
Letda Laut (Suplai) Ilham Fahruzi
WhatsApp: 0823 3544 4445 (UJIK)
