RADAR BLAMBANGAN.COM, | Jakarta, – Ketua Umum Fast Respon Nusantara Counter Polri, Agus Flores, menyampaikan pandangan reflektif dan filosofis terkait hubungan antara manusia, bumi, serta dinamika perebutan kekayaan alam yang terjadi hingga saat ini.
Dalam pernyataannya, Agus Flores menyoroti bahwa Indonesia sebagai negara yang dilintasi garis khatulistiwa memiliki keunggulan kesuburan dibandingkan banyak wilayah lain di dunia. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari emas, nikel, batubara hingga minyak bumi.
Menurutnya, fenomena alam dan perkembangan zaman tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar yang terjadi di dalam bumi, termasuk pergeseran struktur serta dinamika magnetik yang diyakini turut memengaruhi kondisi permukaan bumi saat ini.
“Perubahan zaman membawa dampak besar, baik secara alamiah maupun akibat perkembangan teknologi dunia. Ada pergeseran-pergeseran yang membuat kekayaan bumi semakin terbuka ke permukaan,” ujarnya. Sabtu, (28/03/2026)
Agus juga mengaitkan pandangannya dengan pembabakan zaman dalam ilmu Geologi, mulai dari Arkeozoikum, Paleozoikum, Mesozoikum hingga Neozoikum, yang menandai perjalanan panjang evolusi bumi dan kehidupan hingga munculnya manusia.
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa dalam perspektifnya, era manusia saat ini merupakan fase di mana eksplorasi terhadap “perut bumi” semakin masif. Aktivitas pertambangan dan eksploitasi sumber daya alam dinilai sebagai bentuk nyata dari upaya manusia dalam menggali potensi yang telah ada sejak zaman purba.
Namun demikian, Agus Flores juga menyoroti aspek filosofis yang lebih dalam. Ia berpendapat bahwa apa yang ada di dalam bumi sejatinya memiliki keterkaitan dengan manusia itu sendiri.
“Isi perut bumi itu sejatinya ada dalam perut manusia. Maka yang terjadi sekarang adalah perebutan, karena manusia merasa memiliki kebutuhan dan kemampuan untuk menguasainya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap konsep pengelolaan sumber daya alam yang selama ini diatur dalam kerangka negara. Menurutnya, jika konsep penguasaan oleh negara benar-benar berjalan ideal, maka tidak akan ada ketimpangan sosial seperti kelaparan atau konflik perebutan sumber daya.
Ia pun mengajak semua pihak untuk kembali merefleksikan hubungan antara manusia dan alam, tidak semata dalam konteks ekonomi dan kekuasaan, tetapi juga dalam perspektif keseimbangan dan tanggung jawab.
“Sejarah itu berputar. Yang terjadi hari ini adalah bagian dari siklus panjang bumi dan manusia. Tinggal bagaimana kita menyikapinya,” pungkasnya.***
