RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Di balik rimbunnya vegetasi yang menyelimuti kawasan Puncak Puthuk Giri, Kelurahan Giri, Banyuwangi, tersimpan sebuah situs yang menjadi magnet spiritual bagi para peziarah. Di tempat yang relatif terpencil ini, berdiri sebuah pusara yang diyakini sebagai makam Buyut Sayu Atika sosok perempuan yang dihormati dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat.
Suasana hening di perbukitan justru menjadi daya tarik tersendiri. Aura sakral yang menyelimuti area makam seolah tak pernah pudar, menjadikannya destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi, baik oleh warga Banyuwangi maupun peziarah dari luar daerah.
Bagi masyarakat lokal, makam yang juga dikenal sebagai Eyang Putri Atika ini bukan sekadar situs sejarah. Tempat ini telah menjadi ruang spiritual untuk berdoa dan mencari ketenangan batin. Meski berada di ketinggian, akses menuju lokasi tergolong memadai. Salah satu jalur yang kerap dilalui peziarah adalah rute di belakang Masjid Baitul Ma’wa, yang terletak di tepi Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Payaman, Giri.
Juru pelihara makam, Jum’ali, menjadi sosok yang merawat sekaligus menjaga kisah yang melekat pada situs tersebut. Ia menuturkan bahwa Buyut Sayu Atika diyakini sebagai Dewi Sekardadu, ibu dari Sunan Giri salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
“Beliau adalah ibunda Sunan Giri, putra dari pernikahan Dewi Sekardadu dengan Syekh Maulana Ishak,” ujar Jum’ali.
Kisah Dewi Sekardadu tak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Ia merupakan putri Prabu Minak Sembuyu, penguasa Blambangan pada masa itu. Dalam catatan tutur yang berkembang, kerajaan pernah dilanda wabah misterius yang mematikan. Banyak warga meninggal dalam waktu singkat, menciptakan suasana mencekam.
Di tengah situasi tersebut, Dewi Sekardadu jatuh sakit. Sang raja pun mengadakan sayembara: siapa pun yang mampu menyembuhkan sang putri dan mengakhiri wabah, akan dinikahkan dengannya. Syekh Maulana Ishak kemudian berhasil menyembuhkan sang putri sekaligus meredakan wabah tersebut.
Pernikahan pun terjadi, namun tidak berlangsung lama dalam kedamaian. Kehadiran Maulana Ishak yang membawa ajaran Islam memicu penolakan dari kalangan istana yang masih memegang kuat tradisi lama. Konflik pun tak terhindarkan hingga akhirnya Maulana Ishak memilih meninggalkan Blambangan demi meredam ketegangan.
Situasi semakin memburuk ketika Dewi Sekardadu yang tengah mengandung turut diusir. Setelah melahirkan, bayi yang kelak dikenal sebagai Sunan Giri diperintahkan untuk dibuang ke laut oleh sang raja. Bayi tersebut dimasukkan ke dalam peti dan dilarung ke samudra.
Dewi Sekardadu, dengan naluri keibuannya, berusaha menyelamatkan sang anak. Ia mengejar peti yang terombang-ambing di tengah ganasnya ombak. Namun, takdir berkata lain. Ia gugur di tengah perjuangan, tenggelam bersama duka yang mendalam.
Kisah tragis penuh pengorbanan ini terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Hingga kini, Puncak Puthuk Giri tak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga simbol keteguhan, cinta seorang ibu, serta jejak sejarah spiritual di bumi Blambangan.***
