RADARBLAMBANGAN.COM | PEKANBARU — Aksi mahasiswa di Universitas Lancang Kuning (Unilak) kembali pecah pada Rabu (13/05/2026) saat sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Presma Unilak Terpilih mendatangi Gedung Rektorat untuk menuntut keadilan.
Kedatangan mahasiswa yang sudah kesekian kalinya dari beberapa rentetan demonstrasi lainnya terkait berbagai hal ini, menjadi sinyal keras bahwa mahasiswa tidak akan lagi mentoleransi kebuntuan birokrasi yang telah membekukan organisasi mahasiswa tingkat universitas selama empat tahun berturut-turut.
Dalam aksi kali ini, mahasiswa secara terbuka membongkar kegagalan manajemen kampus yang membiarkan posisi Presiden Mahasiswa kosong sejak lama, sebuah kondisi yang dianggap sengaja untuk melemahkan suara kritis mahasiswa. Mereka menuntut pembubaran Tim Evaluasi Kongres bentukan Rektor yang dituding hanya menjadi alat untuk “main aman” dan mengulur waktu pelantikan pengurus yang sah.
Kekosongan kepemimpinan ini dinilai sebagai rapor merah bagi Rektor, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, hingga Badan Hukum Dan Etika (BHE) yang dianggap tidak becus menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga marwah demokrasi kampus.
Kemarahan mahasiswa juga dialamatkan pada ketidakjelasan penerapan “7 Nilai UNILAK” yang selama ini diduga hanya menjadi slogan tanpa bukti nyata di lapangan. Koordinator Umum Koalisi, Desman Anugrah, menyatakan bahwa keberadaan mereka di Rektorat adalah untuk memastikan hak-hak mahasiswa tidak terus diabaikan oleh keputusan-keputusan yang berbelit-belit.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Lapangan Martinus GP Napitupulu memberikan peringatan keras dalam orasinya.
“Empat tahun kampus ini dibiarkan tanpa nahkoda mahasiswa! Kami tidak butuh tim evaluasi yang hanya menjadi alat penunda, kami butuh kepastian pelantikan sekarang juga! Bagaimana mungkin Rektor bicara soal memimpin universitas, sementara mengurus organisasi mahasiswa saja gagal total? Jangan sampai tujuh nilai Unilak hanya jadi simbol pajangan di saat demokrasi kami sedang sekarat!” tegas
Martinus GP Napitupulu.
Mahasiswa menegaskan bahwa tuntutan pelantikan segera Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa terpilih adalah harga mati untuk memulihkan kedaulatan mahasiswa di Unilak.
Aksi yang ditutup dengan penyerahan surat pernyataan sikap secara resmi ini diakhiri dengan peringatan bahwa jika Rektor tetap memilih diam dan berlindung di balik prosedur yang lamban, maka gelombang protes yang lebih besar akan segera mengguncang kembali kampus kebanggaan masyarakat Riau tersebut.***
Editor : ERICK
