RADAR BLAMBANGAN.COM.| LUMAJANG – Udara malam yang biasanya tenang di Dusun Krajan 2, wilayah Biting 1 dan Biting 2, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, mendadak berubah mencekam pada Jumat (15/5/2026) dini hari. Sekitar pukul 00.30 WIB, banjir lumpur datang menerjang dan langsung merendam pemukiman warga dengan ketinggian air diperkirakan mencapai 1,5 meter.
Bencana ini menyisakan tanda tanya besar sekaligus kejanggalan bagi masyarakat setempat. Pasalnya, wilayah Lumajang saat ini sebenarnya tengah memasuki prediksi musim kemarau. Hujan yang turun sebelum kejadian pun tergolong singkat, namun dampaknya justru memicu banjir besar yang tak biasa.
Kejanggalan Lumpur Pekat yang Melimpah
Selain faktor cuaca, hal yang paling memicu kecurigaan warga adalah material banjir. Berbeda dengan banjir besar yang pernah melanda kawasan tersebut pada tahun 2021 silam, genangan air kali ini membawa material lumpur pekat dalam jumlah yang sangat banyak.
”Banjir kali ini aneh. Padahal hujan cuma sebentar dan harusnya ini musim kemarau. Yang bikin kami bertanya-tanya, kenapa lumpurnya banyak sekali? Beda dengan tahun 2021 lalu, waktu itu banjirnya mungkin lebih parah luapan airnya, tapi lumpurnya sangat sedikit. Sekarang malah lumpur yang mendominasi,” ujar salah seorang warga terdampak.
Warga menduga ada masalah serius di wilayah hulu atau sepanjang aliran sungai. Muncul spekulasi di tengah masyarakat apakah maraknya aktivitas penebangan pohon di dataran tinggi telah memicu tanah longsor, atau terjadi penggerusan parah pada sempadan (pinggiran) sungai hingga menyebabkan sedimentasi ekstrem ini.
Dugaan warga mengenai adanya titik longsor di wilayah atas sejauh ini belum terkonfirmasi oleh pihak berwenang. Saat dikonfirmasi, Kepala Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Kabupaten Lumajang, Achmad Achyani, S.Hut., M.M. ( Yani ), menyatakan
kalau kita bicara sungai, itu pasti ada, DAS,( Daerah Aliran Sungai). Pasti ada hulunya. Sini hulunya itu bukan, di Gucialit. Hulunya sini itu ada di Senduro dan pasrujambe.
Ini sempalan dari DAS…, yang ada di pasru, kemungkinan ya memang di sana tutupan lahannya yang sudah rusak, bisa juga karena ada lumpur dan lain sebagainya.
Makanya kita itu susah, kalau di saya sebenarnya dari CDK ini tugasnya cuma hanya penyuluhan, ” Ujar Yani.
Yani juga mengatakan walaupun banyak pohon tidak menjamin itu tidak longsor, kemungkinan saja juga bisa longsor, karena apa? Penyerapan airnya terlalu banyak,
Sampai saat ini pihak kehutanan belum menerima laporan resmi mengenai adanya aktivitas longsoran di kawasan hutan atau dataran tinggi yang menjadi hulu aliran, ” Terang Yani.
Menanggapi kejanggalan dan keresahan yang dirasakan warga Biting, Desa Kutorenon, Ketua Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Lumajang, Hisbullah Huda, SH., MH., C.Med., ikut angkat bicara. Ia menegaskan bahwa fenomena “banjir lumpur di musim kemarau” ini tidak boleh dianggap sepele dan memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah serta aparat penegak hukum.
”Jika hujan hanya sebentar namun debit air dan lumpur yang masuk ke pemukiman sedemikian masif hingga mencapai 1,5 meter, maka patut diduga ada ketidakberesan di tata kelola lingkungan hidup kita, khususnya di area hulu atau sepanjang bantaran sungai,” tegas Hisbullah Huda.
Lebih lanjut, Ketua Ikadin Lumajang ini mendesak dibentuknya tim investigasi lingkungan secara komprehensif.
”Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama dinas-dinas terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pengairan, harus segera turun ke lapangan. Periksa apakah ada pembiaran terhadap alih fungsi lahan, penebangan liar (illegal logging), atau adanya kerusakan tanggul alami akibat tergerusnya pinggiran sungai. Masyarakat berhak mendapatkan jawaban atas kerugian material maupun immaterial yang mereka alami akibat bencana yang tidak wajar ini,” Ungkap nya.
Ia juga meminta adanya evaluasi terhadap kondisi lingkungan di kawasan hulu sungai, termasuk kemungkinan adanya aktivitas yang berdampak terhadap kerusakan alam.
Warga masih berupaya membersihkan lumpur yang masuk ke rumah-rumah dan akses jalan lingkungan. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan melakukan penanganan serta penelitian terkait penyebab banjir yang dinilai tidak biasa tersebut
( uzi )
