Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.
RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Tanah Saseel tidak sekadar dirayakan sebagai sebuah seremoni tahunan, melainkan menjadi sebuah perjumpaan manusia dengan tanah air, laut, masyarakat, dan kesederhanaan yang sesungguhnya. Di tepi Pantai Bajo, upacara kemerdekaan dilaksanakan dengan penuh hikmat melalui kebersamaan BNEWME yang dipimpin Afkha, Komunitas Home Schooling Banyuwangi yang diwakili Widhayu, Ady, Niken, Amini, Stevy, Fadlan, Worship, Arra, Sara, dan Satria, serta Komunitas Home Schooling Wonogiri yang diwakili Yudi, Awwal, dan Gagah, bersama perangkat Desa Saseel. Upacara tersebut dikoordinasikan oleh Bayu Rantau, S.Pd., dengan Latif, S.Pd.I. sebagai komandan upacara dan Abdul Latif, S.Pd.SD., Kepala SDN 2 Saseel, sebagai inspektur upacara. Di tempat yang sederhana itu, merah putih berkibar di antara birunya laut dan langit, seakan mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya tentang gedung-gedung megah dan pusat kekuasaan, tetapi juga tentang pulau-pulau kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, tempat rakyat menjaga Indonesia dengan ketulusan yang sering kali tidak terlihat oleh siapa pun.
Ada sesuatu yang sangat indah dari kemerdekaan yang dirayakan dengan kesederhanaan. Tidak ada kemewahan yang harus dipertontonkan, tidak ada panggung besar yang harus dibangun untuk membuktikan kecintaan kepada negeri. Yang hadir adalah manusia-manusia yang datang dengan hati, berdiri di bawah matahari, menghadap laut, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan penuh penghormatan. Namun, di tengah suasana sakral tersebut, terasa pula sebuah ironi yang patut menjadi bahan perenungan. Ketika rakyat berdiri sederhana di bawah terik matahari untuk menghormati kemerdekaan, sebagian pejabat justru berada di bawah tenda dengan berbagai suguhan, bahkan tampak menari-nari dalam suasana yang semestinya penuh penghormatan. Kritik ini bukan ditujukan untuk merendahkan siapa pun, melainkan sebagai cermin bahwa jabatan publik seharusnya menghadirkan keteladanan. Sebab, kemerdekaan bukanlah kesempatan untuk menikmati fasilitas, melainkan panggilan untuk menghayati pengorbanan para pendahulu bangsa dan merasakan denyut kehidupan rakyat yang dilayani.
Pandangan Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC. (Akademisi & Public Policy Legacy & Praktisi Home Schooler) “Kemerdekaan sejatinya tidak berhenti pada upacara, pidato, bendera, atau rangkaian seremonial. Kemerdekaan harus hadir dalam keberanian melawan ketidakadilan, dalam kejujuran ketika memegang amanah, dalam kepedulian kepada masyarakat kecil, serta dalam keberanian menolak keserakahan kekuasaan.” Ketika oligarki dan kapitalisme semakin kuat memengaruhi kehidupan publik, ketika korupsi masih menjadi persoalan bangsa, ketika sebagian rakyat masih berjuang mendapatkan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan akses pembangunan yang layak, maka pertanyaan tentang makna kemerdekaan harus terus diajukan. Apakah kita benar-benar telah merdeka, jika sebagian kecil menikmati kemajuan sementara sebagian lainnya masih harus berjuang hanya untuk mendapatkan hak-hak dasar? Tanah Saseel memberikan pelajaran yang sangat sederhana: kemerdekaan tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari ketulusan; tidak selalu tampak dalam kemegahan, tetapi terasa dalam kebersamaan; dan tidak selalu diucapkan dengan kata-kata besar, tetapi diwujudkan melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan hati.
Hari ini, dari Tanah Saseel, rakyat Pulau Sapeken seakan menyampaikan pesan kepada seluruh Nusantara bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan besar bernama gotong royong. Anak-anak, pendidik, komunitas, masyarakat, dan perangkat desa dapat berdiri bersama dalam satu barisan tanpa memandang status sosial. Di sinilah wajah Indonesia yang sesungguhnya terlihat: sederhana, beragam, tetapi bersatu. Kemerdekaan menjadi semakin bermakna ketika pendidikan hadir sebagai cahaya, ketika buku berpindah dari tangan ke tangan, ketika anak-anak pulau memiliki kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi, dan ketika orang-orang dari tempat yang berbeda rela datang untuk berbagi tanpa menanyakan apa yang akan mereka terima. Inilah kemerdekaan yang hidup kemerdekaan yang tidak hanya dikenang melalui sejarah, tetapi diteruskan melalui tindakan nyata. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi, tetapi bangsa yang mampu membangun manusia dengan martabat, pengetahuan, karakter, dan harapan.
Pada akhirnya, Merdeka Sesungguhnya Dimulai dari Diri Kita Masing-Masing. Tidak perlu menunggu menjadi pejabat untuk berbuat baik, tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, dan tidak perlu menunggu memiliki kekuasaan untuk mencintai Indonesia. Kita dapat memulai kemerdekaan dari kejujuran diri sendiri, dari menghormati orang lain, dari mendidik anak-anak dengan kasih, dari menjaga lingkungan, dari menolak korupsi, dari tidak menyalahgunakan jabatan, dan dari keberanian untuk tetap menjadi manusia yang rendah hati ketika memiliki kekuasaan. Tanah Saseel mengajarkan bahwa di ujung Nusantara sekalipun, merah putih tetap memiliki makna yang dalam. Di sana, kemerdekaan tidak dirayakan dengan kemewahan, tetapi dengan ketulusan. Tidak dengan kesombongan, tetapi dengan kerendahan hati. Tidak dengan jarak antara pejabat dan rakyat, tetapi dengan kebersamaan. Sebab, selama masih ada hati yang jujur, tangan yang mau menolong, anak-anak yang berani bermimpi, dan manusia yang mencintai tanah airnya, selama itu pula Indonesia belum kehilangan makna kemerdekaannya.
“Kemerdekaan bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri di atas orang lain, tetapi seberapa rendah hati kita mau berdiri bersama rakyat.”
“Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang bendera; ia harus berkibar di dalam hati setiap anak bangsa.”
“Merdeka bukan ketika kita bebas menikmati kekuasaan, tetapi ketika kekuasaan bebas dari keserakahan.”
“Dari Tanah Saseel kita belajar: Indonesia yang besar dibangun bukan hanya oleh mereka yang berada di pusat kekuasaan, tetapi juga oleh mereka yang dengan tulus menjaga Indonesia dari pulau-pulau kecilnya.”
HS.
