RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BESUKI, SITUBONDO, — Ada panggilan yang tak bisa ditunda, bahkan ketika kesibukan sedang berada di puncaknya. Bagi Ketua Umum Fast Respon, Agus Flores, pesan dari sang ayah menjadi alasan kuat untuk kembali menjejakkan kaki di Besuki, tanah yang menyimpan jejak panjang perjalanan keluarganya.
Dalam sebuah percakapan telepon, sang ayah yang merupakan putra Mbah Kusman Besuki berpesan agar Agus Flores tetap menyempatkan diri hadir dalam rangkaian Hari Jadi Besuki.
Pesan tersebut bukan sekadar ajakan menghadiri sebuah perayaan. Di baliknya tersimpan amanah keluarga, sejarah, serta hubungan emosional dengan tokoh-tokoh yang memiliki jejak penting dalam perjalanan Besuki.
“Biar sesibuk apa pun, datang Hari Jadi Besuki,” demikian pesan sang ayah kepada Agus Flores.
Ada pula amanah lain yang disampaikan. Agus diminta memperhatikan Ibu Nyai dan pimpinan pondok pesantren, terlebih setelah wafatnya almarhum Abah Muhaimin Rozak.
Menurut cerita keluarga yang disampaikan kepadanya, Agus juga diminta tetap menjaga hubungan dan memperhatikan keluarga yang berada di Besuki.
Namun, perjalanan Agus ke Besuki kali ini memiliki dimensi sejarah yang lebih dalam.
Sang ayah mengingatkan bahwa ada kaitan erat antara perjalanan keluarga mereka dengan aparat kepolisian. Sejumlah aset keluarga, menurut penuturan tersebut, pada masa lalu diserahkan kepada pihak kepolisian.
Karena itu, keberadaan Agus di Besuki nantinya juga diharapkan menjadi momentum untuk kembali menjalin komunikasi dan kebersamaan dengan jajaran kepolisian.
“Di sana saya harus berada bersama Polisi,” demikian pesan yang disampaikan sang ayah sebagaimana dituturkan Agus.
Tidak berhenti di situ. Agus juga mendapat pesan untuk melakukan ziarah kepada Bupati pertama Besuki, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pendahulu.
Dalam kisah keluarga yang dituturkan, Bupati pertama tersebut disebut memiliki hubungan dekat dengan keluarga Mbah Kusman. Bahkan, Mbah Kusman disebut pernah diperlakukan seperti anak sendiri dan memiliki kedekatan dengan lingkungan Pendopo Besuki.
Kisah tersebut semakin menarik karena masa kecil hingga dewasa sang ayah Agus Flores disebut banyak dihabiskan di lingkungan Pendopo Besuki.
Dari tanah Besuki itulah perjalanan hidup kemudian berlanjut. Hingga akhirnya, ketika mengikuti Akpol gelombang ketiga, sang ayah meninggalkan Besuki untuk menempuh perjalanan pengabdian berikutnya.
Kini, puluhan tahun kemudian, pesan dari sang ayah seakan menjadi panggilan untuk kembali.
Bukan sekadar pulang ke sebuah daerah.
Tetapi kembali menelusuri jejak keluarga, menghormati leluhur, menjaga amanah, dan merawat hubungan dengan para tokoh serta institusi yang memiliki bagian dalam sejarah perjalanan keluarganya.
Bagi Agus Flores, Hari Jadi Besuki tahun ini pun memiliki makna yang berbeda.
Di tengah kesibukan dan berbagai aktivitasnya, ia membawa satu pesan sederhana dari sang ayah:
Jangan lupa Besuki.
Sebab di tanah itulah tersimpan sebagian cerita tentang keluarga, leluhur, perjuangan, dan perjalanan panjang yang membentuk sejarah hidup mereka. (Mh)
