RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI — Pesan kebangsaan mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Desa Mondoluko, Banyuwangi, Jumat malam (18/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., CBC, aktivis sekaligus dosen di salah satu universitas ternama, mengajak masyarakat memperkuat pemahaman terhadap empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
Herman menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang lahir dan tumbuh dari keberagaman. Karena itu, perbedaan suku, agama, bahasa, budaya maupun daerah tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh atau terpecah.
“Bangsa ini didirikan oleh semua golongan, bukan satu orang saja. Semua masyarakat bersama-sama membantu mewujudkan Indonesia merdeka,” ujar Herman dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, empat pilar MPR RI harus dipahami bukan sebatas materi sosialisasi, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila, kata dia, menjadi dasar dalam membangun kehidupan bersama, sementara UUD 1945 menjadi konstitusi yang menjadi pijakan dalam kehidupan bernegara.
“Indonesia terdiri atas beragam suku, agama, bahasa, budaya dan daerah. Perbedaan membutuhkan kesepakatan nilai dan konstitusi sebagai ruang bersama,” katanya.
Herman juga mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dengan mengedepankan dialog ketika menghadapi perbedaan maupun persoalan sosial.
“Jangan terburu-buru membesarkan konflik sosial. Utamakan dialog,” tegasnya.
Ia menilai semangat gotong royong dan sikap saling menghormati merupakan bagian penting dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.
“Kalau bangsa ini tidak bisa memanusiakan manusia, kita gagal. Gotong royong adalah bagian penting dari nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Sebagai aktivis sekaligus akademisi, Herman juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, masyarakat perlu terus membangun budaya yang menjunjung hukum, mencegah korupsi serta mengawasi penyalahgunaan kekuasaan melalui cara-cara yang konstitusional.
Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun oleh seluruh elemen bangsa.
Persatuan, lanjutnya, bukan berarti menghapus perbedaan. Justru keberagaman harus ditempatkan sebagai kekuatan dalam menjaga keutuhan NKRI.
“Berbeda suku, agama, bahasa dan budaya, tetapi kita tetap satu. Itulah Indonesia,” pungkas Herman.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Desa Mondoluko tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingatkan masyarakat bahwa menjaga persatuan dan kesatuan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara.***
