RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Gaung Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 kembali membuktikan diri sebagai magnet wisata kelas dunia. Bahkan sebelum parade budaya spektakuler itu digelar pada Sabtu (18/7/2026), hotel dan homestay di berbagai penjuru Banyuwangi sudah lebih dulu diserbu wisatawan hingga nyaris tanpa sisa kamar.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa BEC bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga mesin penggerak ekonomi daerah yang mampu menghidupkan sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, dampak ekonomi dari penyelenggaraan BEC dirasakan langsung oleh masyarakat dari berbagai lapisan.
“Inilah yang kami harapkan dari digelarnya event di Banyuwangi, salah satunya BEC. Semua sektor ikut bergerak. Seluruh elemen mulai masyarakat hingga pelaku usaha, dari pedagang asongan hingga penginapan serta sektor lainnya ikut mendapat manfaatnya,” ujar Ipuk.
Lonjakan wisatawan sudah terlihat sejak 16 Juli. Salah satu penginapan yang menikmati berkah tersebut adalah Didu’s Homestay yang telah penuh dipesan jauh sebelum hari pelaksanaan BEC.
Owner Didu’s Homestay, Maya Subagio, mengungkapkan mayoritas tamunya berasal dari luar negeri dan sengaja memperpanjang masa tinggal demi menyaksikan kemegahan BEC.
“Tanggal 17-18 sudah penuh. Bahkan tamu dari Australia dan Belanda sengaja long stay untuk menyaksikan BEC,” kata Maya.
Menurutnya, promosi rutin mengenai kalender event Banyuwangi kepada tamu maupun melalui media sosial penginapan terbukti efektif menarik wisatawan untuk datang.
Gelombang wisatawan juga membuat sejumlah hotel berbintang di Banyuwangi kewalahan memenuhi permintaan kamar. Berdasarkan berbagai platform pemesanan daring, seperti Traveloka dan Agoda, hotel-hotel populer seperti Ilira, El Royale, Aston, Santika, Kokoon, Ketapang Indah, hingga Hotel Blambangan tercatat penuh atau hanya menyisakan satu hingga dua kamar.
Asisten Sales and Marcom Manager Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center, Hilman Thonthowi, mengungkapkan tingkat okupansi hotelnya nyaris menyentuh angka 100 persen.
“Ini setiap tahun. Trennya tiap ada gelaran event di Banyuwangi, salah satunya BEC ini selalu penuh,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Public Relation Hotel Santika, Janes Adi. Ia menyebut pemesanan kamar melonjak tajam selama periode BEC berlangsung.
“Pemesanan kamar meningkat signifikan, terutama untuk tanggal 16-19 Juli. Kami merasakan betul dampak positif, tidak hanya saat BEC, tamu kami juga selalu ramai ketika ada event Banyuwangi Festival yang lainnya,” katanya.
Melimpahnya kunjungan wisatawan ini semakin menegaskan posisi Banyuwangi Ethno Carnival sebagai salah satu agenda unggulan nasional yang bukan hanya memukau lewat kemegahan budaya, tetapi juga menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah. Setiap penyelenggaraan BEC menghadirkan efek berganda (multiplier effect) yang menggerakkan roda usaha masyarakat, mulai dari pedagang kecil hingga industri perhotelan, sekaligus memperkuat citra Banyuwangi sebagai destinasi wisata berkelas dunia.(silvi)
