RADAR BLAMBANGAN.COM.| Lumajang – Pemerintah Kabupaten Lumajang menempatkan sekolah tidak hanya sebagai ruang pendidikan, tetapi juga titik penting untuk mendeteksi kondisi sosial keluarga yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Melalui kunjungan langsung ke sekolah dalam program Setormadu (Sehari Ngantor di Kecamatan Terpadu), pemerintah daerah berupaya melihat secara nyata kondisi siswa sebagai bagian dari deteksi dini persoalan sosial-ekonomi yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak.
Langkah tersebut dilakukan Bupati Lumajang, Indah Amperawati, bersama Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma saat mengunjungi SDN Kepuharjo 01 dan SMPN 02 Kecamatan Lumajang, Selasa (12/5/2026).
Dalam kunjungan itu, Bupati menyerahkan bantuan sepatu kepada 40 siswa, sekaligus memantau langsung kondisi sarana belajar serta kebutuhan dasar siswa di lingkungan sekolah.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan, sekolah menjadi salah satu tempat paling efektif untuk membaca kondisi riil keluarga, karena banyak persoalan sosial anak dapat terlihat dari keseharian mereka di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, kondisi seragam, perlengkapan sekolah, hingga asupan gizi sering menjadi indikator awal yang menunjukkan adanya kerentanan di tingkat keluarga.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar. Dari sekolah, kita bisa melihat kondisi anak secara langsung, termasuk kebutuhan yang mungkin belum terpenuhi di rumah. Dari situ pemerintah bisa segera hadir membantu,” ujarnya.
Ia menilai, pendekatan langsung ke sekolah penting dilakukan agar pemerintah tidak hanya bergantung pada laporan administratif, tetapi mampu melihat kondisi nyata yang dihadapi anak-anak.
Bagi pemerintah daerah, deteksi semacam ini menjadi langkah penting untuk memastikan persoalan sosial tidak berkembang menjadi hambatan pendidikan.
“Kadang persoalan keluarga terlihat dari hal sederhana. Sepatu yang tidak layak, perlengkapan yang kurang, atau kondisi kesehatan anak. Kalau diketahui lebih awal, kita bisa cepat mengambil langkah,” katanya.
Substansi dari kunjungan tersebut adalah menjadikan sekolah sebagai ruang identifikasi kerentanan sosial keluarga. Melalui interaksi langsung dengan siswa, guru, dan lingkungan sekolah, pemerintah dapat memetakan kebutuhan yang memerlukan intervensi lintas sektor.
Pendekatan ini juga memungkinkan pemerintah menghubungkan pelayanan pendidikan dengan pelayanan sosial, sehingga bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran sesuai kondisi keluarga.
Disamping itu, Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma menambahkan, penguatan sumber daya manusia tidak cukup hanya melalui proses belajar di kelas, tetapi juga dengan memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi.
Menurutnya, perhatian terhadap kondisi fisik dan sosial anak menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pendidikan.
“Anak-anak akan belajar lebih baik ketika kebutuhan dasarnya terpenuhi dan lingkungan mendukung. Karena itu, pemerintah harus hadir lebih dekat untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” ujarnya.
Melalui program Setormadu, Pemerintah Kabupaten Lumajang ingin memperkuat pola pelayanan yang lebih responsif, yakni mendekatkan pemerintah ke masyarakat dan mendeteksi persoalan sejak dini.
Dengan menjadikan sekolah sebagai titik deteksi sosial, pemerintah berharap intervensi terhadap keluarga rentan dapat dilakukan lebih cepat, sehingga anak-anak tetap memperoleh kesempatan belajar dan berkembang secara optimal.
( uzi-tm )
