RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BESUKI, SITUBONDO – Sejarah Besuki kembali menjadi sorotan. Di balik perjalanan panjang wilayah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Situbondo, tersimpan kisah bangsawan Yogyakarta yang disebut memiliki kaitan dengan sosok Bupati Besuki pertama.
Kisah tersebut kembali diungkap Ketua Umum Fast Respon Counter Polri, R. Mas MH Agus Rugiarto SH, atau yang dikenal Agus Flores. Dalam unggahannya, Agus Flores menyampaikan cerita yang pernah dituturkan ayahnya, R. Kusnandar Astrodiarjo, mengenai asal-usul Bupati pertama Besuki.
Menurut cerita keluarga tersebut, Bupati pertama Besuki disebut memiliki keterkaitan dengan Pangeran Notokusumo dari Yogyakarta, tokoh bangsawan yang kemudian dikenal sebagai KGPAA Paku Alam I, pendiri Kadipaten Pakualaman.
Nama Notokusumo sendiri memiliki jejak kuat dalam sejarah politik dan kebangsawanan Jawa pada awal abad ke-19. Pangeran Notokusumo merupakan putra Sultan Hamengku Buwono I yang kemudian berhadapan dengan dinamika politik Kesultanan Yogyakarta dan pemerintahan kolonial.
Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, Notokusumo disebut mengalami konflik dengan pemerintah kolonial, khususnya pada era Herman Willem Daendels. Ia kemudian ditangkap dan diasingkan.
Situasi berubah ketika Inggris mengambil alih kekuasaan di Jawa pada 1811 di bawah pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Pangeran Notokusumo kemudian dibebaskan dan memperoleh posisi penting setelah membantu Inggris.
Pada 1812, Notokusumo diangkat sebagai penguasa wilayah kepangeranan yang berdiri sendiri di luar Kesultanan Yogyakarta dengan gelar KGPAA Paku Alam I. Dari sinilah kemudian lahir Kadipaten Pakualaman.
Namun, kisah yang disampaikan dalam lingkungan keluarga Agus Flores membawa cerita tersebut ke wilayah Besuki dan Madura.
Disebutkan, terdapat garis sejarah dan hubungan kekuasaan yang mengaitkan sosok Notokusumo dengan perjalanan pemerintahan di wilayah Besuki. Bahkan, dalam cerita tersebut muncul dugaan adanya benang merah genealogis dengan keluarga besar sejumlah tokoh penting asal Yogyakarta, termasuk Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Jika benar terdapat hubungan darah sebagaimana cerita tersebut, maka sejarah Besuki tidak hanya berbicara mengenai pergantian kekuasaan dan pemerintahan masa lalu. Ia juga membuka kemungkinan adanya jejak panjang hubungan bangsawan Jawa yang bersambung hingga generasi tokoh nasional masa kini.
Dari keraton Yogyakarta, Paku Alam, Madura-Sumenep, hingga Besuki sebuah rangkaian sejarah yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Meski demikian, hubungan genealogis antara Pangeran Notokusumo, garis keluarga Bupati Besuki pertama, dan nasab Jenderal Listyo Sigit Prabowo masih memerlukan pembuktian melalui sumber sejarah primer, arsip kerajaan, dokumen pemerintahan kolonial, maupun silsilah keluarga yang dapat diverifikasi.
Cerita yang disampaikan Agus Flores melalui penuturan ayahnya tersebut setidaknya kembali membuka ruang bagi penelusuran sejarah Besuki yang selama ini menyimpan banyak persinggungan antara kekuasaan lokal, bangsawan Jawa, dan pemerintahan kolonial.
Besuki ternyata bukan sekadar nama dalam peta sejarah Jawa Timur. Di baliknya, tersimpan jejak kekuasaan, darah bangsawan, dan kisah panjang yang masih menyisakan tanda tanya: benarkah ada garis sejarah yang menghubungkan Paku Alam I dengan keluarga Bupati Besuki pertama hingga nasab Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo?
