RADAR BLAMBANGAN.COM, | Surabaya – Tradisi megengan di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya tahun ini tampil berbeda. Bukan sekadar seremoni menyambut Ramadhan, tetapi menjadi titik mula gerakan spiritual bertajuk “Healing Ramadhan” yang dihadiri langsung oleh Khofifah Indar Parawansa, Ahad.
Ratusan apem yang ditata membentuk “gunung” menjadi magnet kebersamaan. Kue tradisional khas Jawa itu dibagikan kepada guru, murid, dan wali murid dari KB/RA, MI, MTs hingga STAI. Suasana kian khidmat saat lantunan sholawat mengiringi pembagian apem dan buah-buahan yang juga disusun menyerupai gunungan, menciptakan perpaduan antara tradisi lokal dan semangat religius.
“Megengan ini bukan hanya tradisi, tetapi momentum membersihkan hati sebelum Ramadhan. Semoga kita semua diberi kekuatan menjalani ibadah dengan khusyuk dan tanpa bolong kecuali udzur,” ujar Khofifah di hadapan jamaah.
Tak berhenti pada simbol budaya, kehadiran orang nomor satu di Jawa Timur itu juga menandai penguatan fasilitas publik di lingkungan masjid terbesar di Jatim tersebut. Khofifah meresmikan Green Toilet VIP Difabel sebagai bentuk komitmen inklusivitas, sekaligus revitalisasi pengaspalan jalan sisi timur dan utara kawasan masjid untuk meningkatkan kenyamanan jamaah.
Ketua BPP MAS, KHM Sudjak, menegaskan bahwa megengan kali ini menjadi peluncuran resmi rangkaian program Healing Ramadhan 1447 H. Konsepnya dirancang menyentuh empat dimensi: ibadah, dakwah, kreativitas, dan penguatan fisik.
Pada aspek ibadah, program unggulan seperti One Day One Khatam, Tarawih penuh 30 hari, Ngaji Ngabuburit, Tadarus bakda Tarawih, hingga Qiyamul Lail sepuluh malam terakhir disiapkan untuk menghidupkan suasana Ramadhan secara konsisten. Peringatan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qiro’ah juga menjadi bagian dari rangkaian agenda spiritual.
Sementara itu, sentuhan kreatif diwujudkan melalui Museum MAS Masa Lalu dan Masa Kini serta Liga Marbot Soccer dan Ngaji Bareng Bintang Bola di Mini Soccer MAS, menghadirkan pendekatan Ramadhan yang tidak hanya khusyuk secara ruhani, tetapi juga segar dan membumi.
Dengan konsep tersebut, Masjid Al-Akbar tak sekadar menjadi pusat ibadah, melainkan ruang pemulihan jiwa dan penguatan solidaritas sosial. Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar, tetapi momentum menata ulang hati, pikiran, dan kebersamaan.***
