RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi – Aktivis filsafat logika berpikir, Raden Teguh Firmansyah, menyampaikan kritik keras terhadap cara penyampaian pendapat yang menggeneralisasi sebuah organisasi ketika mengomentari persoalan yang diduga melibatkan individu tertentu.
Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas pernyataan M. Yunus Wahyudi yang disebut menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) di Banyuwangi “banyak masalah”. Menurut Raden Teguh, jika pernyataan tersebut memang ditujukan untuk mengkritik suatu persoalan, maka kritik seharusnya diarahkan kepada oknum yang diduga bermasalah, bukan kepada organisasi secara keseluruhan.
“Dalam filsafat logika berpikir, kesalahan individu tidak dapat dijadikan dasar untuk menghakimi sebuah organisasi. Itu merupakan bentuk generalisasi yang lemah secara logika dan tidak mencerminkan cara berpikir yang ilmiah,” tegas Raden Teguh Firmansyah.
Ia menilai bahwa seorang aktivis memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kritik yang berbasis data, fakta, dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau yang bermasalah adalah oknum, sebutkan oknumnya. Jelaskan datanya. Jangan menyeret nama organisasi yang di dalamnya terdapat banyak orang yang tidak ada kaitannya dengan persoalan tersebut. Kritik harus presisi, bukan membangun stigma,” ujarnya.
Raden Teguh juga menegaskan bahwa dirinya berasal dari Muhammadiyah, namun hal itu tidak mengurangi rasa hormatnya kepada NU sebagai salah satu organisasi Islam yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Saya berbeda latar belakang organisasi, tetapi saya menghormati NU. Perbedaan bukan alasan untuk membangun stigma terhadap sebuah organisasi. Justru aktivis harus menjadi teladan dalam menjaga objektivitas, etika, dan logika berpikir.”
Raden Teguh mengajak seluruh aktivis untuk mengedepankan argumentasi yang rasional dan tidak mudah menggeneralisasi suatu kelompok.
“Aktivisme tidak diukur dari seberapa keras seseorang berbicara, tetapi dari seberapa kuat argumentasinya dibangun di atas fakta, logika, dan integritas intelektual. Kritik yang benar adalah kritik yang menyasar pelaku yang bertanggung jawab, bukan menghakimi organisasi secara keseluruhan.”**
