RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI — Kepedulian terhadap sejarah, seni, budaya hingga spiritualitas di bumi Blambangan mendorong Wong Agung Mukti Jayadinimgrat, atau yang akrab disapa Mas Agung, untuk membangun ruang bagi generasi muda agar tidak sekadar mengenal budaya dari cerita, tetapi turut terlibat dalam kegiatan pelestariannya.
Pria 46 tahun yang tinggal di Dusun Derwono, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, menjadikan kediamannya yang ia sebut Dalem Jayadiningratan sebagai salah satu pusat berkumpulnya komunitas Sonangkara.
Sonangkara beranggotakan sekitar 25 orang dengan latar belakang pegiat sejarah, seni, budaya, spiritual dan supranatural. Berawal dari kebiasaan berkumpul dan ngopi bersama, komunitas tersebut kemudian membangun rutinitas pertemuan setiap malam Jumat Kliwon sekaligus mengembangkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sejarah dan budaya.
Menurut Mas Agung, nama Sonangkara terinspirasi dari kisah pasukan elit Blambangan pada era Pangeran Danuningrat. Ia mengaitkan filosofi komunitas tersebut dengan sosok anjing hutan atau yang dikenal masyarakat Banyuwangi sebagai baong.
Bagi Mas Agung, filosofi baong menggambarkan sejumlah nilai yang ingin ditanamkan kepada anggota komunitas, antara lain kesetiaan, ketaatan kepada pemimpin, ketangkasan, kekompakan dan kemampuan bekerja sebagai sebuah tim.
Nilai-nilai itulah yang kemudian diterjemahkan Sonangkara dalam bentuk komunitas anak muda yang diharapkan memiliki kemampuan, karya dan karakter sesuai bidang masing-masing.
«“Banyak sekali di sekitar kita para pemuda dan generasi muda yang mencari jati dirinya dengan membentuk dirinya menjadi seniman, budayawan, sejarawan, spiritualis, supranaturalis. Namun karena tidak ada edukasi dan pendampingan yang baik, mereka menjadi abal-abal. Berbekal foto dan posting di media sosial mereka sudah mengatakan dirinya seperti itu. Ini yang menjadi keprihatinan saya,” ujar Mas Agung.»
Bukan Sekadar Identitas di Media Sosial
Mas Agung menegaskan, Sonangkara tidak ingin sekadar menjadi komunitas yang ramai di media sosial. Para anggota yang rata-rata berusia 25 hingga 40-an diarahkan untuk menemukan minat dan kemampuan mereka melalui proses belajar serta kegiatan langsung di lapangan.
Ia berharap anggota yang menekuni sejarah, budaya, seni, spiritualitas maupun bidang lainnya benar-benar menghasilkan karya dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat berdasarkan aktivitasnya.
Dengan demikian, identitas sebagai pegiat tidak berhenti pada foto, atribut atau unggahan media sosial.
“Sejarahwan, budayawan, seniman, spiritualis, supranaturalis yang benar-benar punya karya dan diakui masyarakat. Bukan abal-abal yang hanya modal foto dan omong besar,” tegasnya.
Eksplorasi Sejarah hingga Situs Budaya
Berbagai kegiatan dilakukan Sonangkara secara swadaya. Agenda komunitas antara lain meditasi di situs-situs sejarah pada malam Jumat Kliwon, eksplorasi sejarah setiap bulan di wilayah eks-Karesidenan Besuki, serta mendukung kegiatan GENTA seperti haul Rempeg dan haul Tawang Alun.
Komunitas tersebut juga melakukan kegiatan spiritual di kawasan Alas Purwo. Namun di antara berbagai agenda tersebut, kegiatan yang paling sederhana sekaligus rutin tetap menjadi bagian penting komunitas: ngopi bersama.
Dari kegiatan berkumpul itulah komunikasi, diskusi dan pertukaran pengetahuan antaranggota terus dibangun.
Menariknya, sejumlah kegiatan Sonangkara juga dilakukan secara mandiri tanpa mengandalkan pendanaan besar. Ketika membantu renovasi situs-situs sejarah, misalnya, anggota mengandalkan kas komunitas dan kemampuan swadaya.
Panji Merah dan Identitas Sonangkara
Ketika tampil di ruang publik, Sonangkara memiliki ciri khas berupa panji dan kostum bernuansa merah. Sejumlah anggota juga membawa pusaka kuno sebagai bagian dari identitas penampilan komunitas.
Namun bagi Mas Agung, atribut tersebut bukanlah tujuan utama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak muda yang bergabung mampu berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Ia melihat sejumlah anggota yang sebelumnya belum banyak dikenal kini mulai aktif dalam berbagai kegiatan dan semakin dikenal sebagai pegiat di bidang yang mereka tekuni.
Mas Agung menyebut proses tersebut sebagai bagian dari upaya membentuk generasi muda yang tidak hanya mengaku mencintai budaya, tetapi juga mau bekerja dan menghasilkan sesuatu.
Pelestarian Tidak Bisa Berjalan Sendiri
Mas Agung menilai keberadaan generasi muda sering kali belum mendapatkan perhatian yang cukup. Padahal, menurutnya, keberlanjutan pelestarian sejarah dan budaya sangat bergantung pada munculnya generasi baru yang benar-benar memiliki kepedulian.
«“Kita banyak memiliki pemuda-pemuda berpotensi, tapi kadang kita memandang sebelah mata kepada mereka. Kita tidak sadar, apa yang kita teriakkan sebagai pelestarian, nguri-nguri dan sebagainya membutuhkan mereka yang murni mencintai dan bekerja. Tanpa dukungan mereka kita bukan siapa-siapa dan segala usaha kita bukan apa-apa,” pungkasnya.»
Bagi Sonangkara, pelestarian sejarah dan budaya bukan hanya berbicara tentang masa lalu. Ada pekerjaan yang jauh lebih penting, yakni memastikan pengetahuan, nilai dan kecintaan terhadap budaya Blambangan memiliki penerus.
Dari Dalem Jayadiningratan, aktivitas itu terus dirawat berawal dari secangkir kopi, berkembang menjadi diskusi, lalu diwujudkan melalui kegiatan nyata di lapangan. (Mahalik)
