RADAR-BLAMBANGAN.COM, | GILIMANUK, JEMBRANA, – Antrean panjang kembali mengguncang arus penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. Para sopir truk dan pengguna kendaraan pribadi mengeluhkan lamanya waktu tunggu yang mencapai belasan jam.
Seorang sopir mengungkapkan, kendaraannya mulai masuk antrean sejak Sabtu (26/9/2026) sekitar pukul 21.00 WITA. Namun hingga Minggu (27/9/2026) sekitar pukul 11.00 WITA, kendaraan tersebut disebut belum juga mendapatkan giliran naik kapal.
Artinya, berdasarkan keterangan pengemudi tersebut, waktu tunggu telah mencapai sekitar 14 jam.
“Dari jam sembilan malam masuk Melaya. Sampai sekarang jam sebelas siang belum naik kapal,” keluh seorang sopir.
Menurutnya, setelah kendaraan mendekati kawasan pelabuhan, antrean memang mulai bergerak. Namun pergerakan kendaraan dinilai masih lambat karena hanya sebagian kendaraan yang dapat masuk ke kapal.
“Kalau sudah di sini lumayan. Paling bisa masuk satu kapal, dua kapal masuk,” ujarnya.
Bukan hanya sopir truk. Pengguna mobil pribadi pun ikut mengeluhkan kondisi antrean. Panjangnya waktu tunggu membuat perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh lebih cepat berubah menjadi penantian berjam-jam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat jalur Gilimanuk–Ketapang merupakan salah satu urat nadi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik Jawa–Bali.
Bagi sopir truk, keterlambatan bukan hanya berarti kehilangan waktu. Semakin lama kendaraan tertahan, semakin besar pula beban operasional yang harus ditanggung, sementara distribusi barang juga ikut terdampak.
Para pengguna jasa penyeberangan berharap pihak terkait segera mengambil langkah untuk mempercepat pergerakan kendaraan, mengurai antrean, dan memastikan pelayanan penyeberangan berjalan optimal.
“Kami sudah menunggu sejak malam. Sampai siang belum naik kapal,” keluhan tersebut menggambarkan panjangnya penantian para pengguna jasa di tengah kepadatan arus penyeberangan.
Pelabuhan Gilimanuk kembali menjadi sorotan. Antrean belasan jam bukan lagi sekadar persoalan perjalanan, tetapi menyangkut kelancaran mobilitas masyarakat dan distribusi logistik Jawa–Bali.***
