RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi – Kehadiran Aktivis Filsafat Logika Berpikir, Raden Teguh Firmansyah, di tengah puluhan warga Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, memunculkan tanda tanya publik. Namun alih-alih agenda politik praktis, pertemuan tersebut justru menjadi ruang edukasi kritis bagi masyarakat untuk memahami politik secara logis dan berakal sehat. Sabtu. 10/1/2026
Raden Teguh yang selama ini dikenal keras mengkritisi kekuasaan, memilih turun langsung ke akar rumput. Bersama masyarakat Songgon, ia membedah realitas politik yang kerap dipenuhi janji manis, pencitraan, dan manipulasi kesadaran rakyat.
Puluhan warga menyambut kehadiran Raden Teguh dengan antusias. Mereka menilai edukasi yang disampaikan berbeda dari narasi politik pada umumnya, tidak mengarahkan pilihan, tidak mengiming-imingi janji, melainkan mengajak warga berpikir dan menilai dengan logika sendiri.
“Kami tidak disuruh percaya siapa pun. Kami justru diajak curiga secara sehat,” ungkap salah satu warga Desa Sumberarum.
Dalam penyampaiannya, Raden Teguh menegaskan bahwa kerusakan politik bermula ketika rakyat berhenti berpikir dan menyerahkan akal sehatnya kepada elite yang pandai berbicara, namun miskin tanggung jawab.
“Sudah terlalu lama rakyat dibodohi dengan senyum di depan, racun di belakang. Politik yang tidak bisa diuji dengan logika, pasti sedang menyembunyikan kepentingan,” tegas Raden Teguh.
Ia menyebut, rakyat Indonesia harus segera naik kelas, dari sekadar pemilih menjadi subjek politik yang sadar, kritis, dan tidak mudah diperalat oleh pejabat yang hanya muncul saat butuh suara.
“Jika rakyat terus diperlakukan sebagai objek, maka kebohongan akan terus diwariskan. Tapi jika rakyat berlogika, manipulasi akan kehilangan panggungnya,” lanjutnya.
Raden Teguh juga mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kesadaran rakyat hanya akan melahirkan pejabat yang manis di pidato, pahit dalam kebijakan. Kegiatan ini ditutup dengan dialog terbuka yang membahas persoalan desa, ketimpangan kebijakan, hingga harapan warga agar demokrasi tidak lagi menjadi alat segelintir elite, melainkan ruang keadilan bagi seluruh rakyat.
Pertemuan di Songgon ini menjadi sinyal bahwa perlawanan terhadap politik manipulatif tidak selalu dimulai dari panggung besar, tetapi dari kesadaran berpikir rakyat di desa.
