RADAR-BLAMBANGAN.COM, | JAKARTA — Ada cerita panjang di balik sosok Agus Flores. Dari seorang anak desa yang memilih merantau ke Jakarta, namanya kini kerap muncul dalam berbagai perbincangan tentang kepolisian, Fast Respon Nusantara (FRN), hingga tanah kelahirannya, Besuki.
Menariknya, sejumlah pesan dan julukan yang disebut pernah disampaikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo kepada Agus Flores menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Agus Flores merangkum sejumlah kata-kata yang menurutnya pernah disampaikan Jokowi sejak masih menjabat Presiden hingga setelah tidak lagi berada di Istana.
Mulai dari kalimat “jauh di mata, dekat di hati”, pesan agar tetap sabar, tenang dan rendah hati, hingga nasihat sederhana namun penuh makna: “jaga kesehatan” dan “atur tidurnya.”
Namun, bukan hanya nasihat pribadi.
Menurut Agus Flores, Jokowi juga pernah memberikan perhatian terhadap kiprahnya bersama Fast Respon Nusantara (FRN) serta aktivitasnya dalam membangun komunikasi dengan berbagai elemen kepolisian dan masyarakat.
Bahkan, Agus menyebut sejumlah julukan yang melekat pada dirinya juga tidak lepas dari Jokowi.
Salah satunya adalah penyebutan nama “Agus Flores” yang kemudian identik dengan inisial AF. Ada pula julukan “Sultan Besuki”, yang menurut Agus diberikan oleh Jokowi sebagai bentuk pengakuan terhadap keterikatannya dengan tanah leluhurnya di Besuki.
Cerita lainnya tak kalah menarik.
Agus menyebut dirinya pernah dua kali mendapat tawaran menjadi Wakil Menteri (Wamen), namun tawaran tersebut diklaimnya tidak diambil.
Di sisi lain, Agus juga menyinggung perjalanan FRN yang disebutnya memiliki kisah tersendiri hingga mendapatkan pengakuan administratif yang dikaitkan dengan Nomor 100 pada Lembaran Negara.
Bagi Agus, semua itu bukan sekadar soal jabatan, popularitas maupun gelar.
Ada pesan yang menurutnya jauh lebih besar: membantu Kapolri berkeliling Nusantara agar polisi semakin dekat dan dicintai masyarakat.
Dari Anak Desa ke Panggung Nasional
Lantas muncul pertanyaan sederhana:
Siapa sebenarnya Agus Flores?
Ia bukan lahir dari keluarga yang sejak awal berada di pusat kekuasaan. Ia mengaku berasal dari desa, kemudian memilih merantau ke Jakarta dan membangun perjalanan hidupnya sendiri.
Dari dunia organisasi, advokasi, hingga profesinya sebagai pengacara, Agus kemudian dikenal melalui aktivitas sosial dan jaringan media yang dibangunnya.
Namun ketika ditanya bagaimana seorang anak desa bisa sampai berada dalam lingkaran perbincangan tokoh-tokoh nasional?
Jawaban Agus justru mengundang tawa.
Dengan gaya khasnya, ia menjawab:
“KARENA SAYA RAJA MAJAPAHIT.”
Kalimat tersebut disampaikan dengan nada berseloroh.
Tetapi di balik candaan itu, ada satu pesan yang tampaknya ingin ditegaskan Agus: perjalanan seseorang tidak selalu ditentukan dari mana ia dilahirkan, melainkan sejauh mana ia mampu membangun jaringan, bekerja, menjaga hubungan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.
Dari desa menuju Jakarta.
Dari seorang perantau menjadi pengacara.
Dari aktivitas organisasi hingga memimpin jaringan Fast Respon Nusantara.
Dan kini, nama Agus Flores kembali menjadi sorotan bersama cerita tentang Besuki, FRN, serta kedekatannya dengan sejumlah tokoh nasional.
Apakah benar Agus Flores “Raja Majapahit”?
Tentu saja bukan secara harfiah.
Itu adalah gaya khas Agus Flores dalam menjawab pertanyaan tentang perjalanan hidupnya sebuah candaan yang justru membuat kisahnya semakin menarik untuk diperbincangkan.
Anak desa, perantau ke Jakarta, pengacara, aktivis, dan kini dikenal sebagai Agus Flores.
Satu kalimat mungkin cukup menggambarkan gayanya:
“Kalau ditanya siapa saya, ya saya jawab saja: Raja Majapahit.”
